Prihatin Kampanye Hitam, Dahlan Iskan: Itu Pemerkosaan Terhadap Jurnalistik!

Prihatin Kampanye Hitam, Dahlan Iskan: Itu Pemerkosaan Terhadap Jurnalistik!

- detikNews
Jumat, 27 Jun 2014 17:39 WIB
Prihatin Kampanye Hitam, Dahlan Iskan: Itu Pemerkosaan Terhadap Jurnalistik!
Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan merasa prihatin dengan maraknya kampanye hitam di masa kampanye Pilpres 2014. Ia menyebut jurnalistik telah diperkosa demi kepentingan politik.

Dahlan menyoroti adanya survei Gallup yang menyebut bahwa pasangan capres dan cawapres Prabowo-Hatta Rajasa menang dari pesaingnya Jokowi-JK. Hasil survei itu ternyata palsu alias rekayasa dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

Dahlan prihatin karena ada televisi yang terus menampilkan running text tentang survei Gallup palsu yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta itu. Dahlan berkata, seharusnya media melakukan cek da ricek sebelum memunculkan berita.

"Pemalusan berita mengenai Gallup itu, luar biasa ya. Sampai jurnalistik sudah begitu diperkosa. Berita di negara orang kemudian disulap sedemikian rupa menjadi berita bohong. Kemudian disiarkan. Menurut saya itu luar biasa pemerkosaannya terhadap jurnalistik. Saya sangat prihatin," kata Dahlan.

Hal itu diungkapkan dahlan dalam jumpa pers di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/6/2014). "Jurnalistik sudah demikian diperkosa untuk kepentingan politik. Sebagai jurnalis senior saya sangat prihatin," sambung Dahlan.

Dahlan bersyukur manipulasi data survei Gallup itu bisa terungkap. "Saya teringat apa yang dikatakan mantan kabareskrim, namanya Brigjen Koesparmono Irsan. Kata beliau, tidak ada kejahatan yang sempurna. Sehingga terungkap seperti itu," imbuhnya.

"Saya merasa terhina karena kita ini susah payah menegakkan jurnalistik yang profesional, tiba-tiba sekarang masyarakat dicekokkan berita bohong seperti itu. Lama-lama nanti apakah masyarakat masih percaya dengan karya jurnalistik?" kata pemilik Grup Jawa Pos itu retoris.

Terlepas siapapun pihak yang menyebar survei Gallup palsu itu, Dahlan berharap pelakunya bisa diungkap. Ia menilai, seharusnya mudah untuk mengetahui siapa pihak yang pertama mempublikasi survei itu.

"Saya tidak mengatakan ini dari siapanya. Tetapi kan bisa dilacak dari siapa yang pertama kali melaunching karya pemerkosaan jurnalistik itu. Kan bisa ditelusuri. Gampanglah bisa dilacak jejaknya," tandasnya.



(bar/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads