Ada panggung kecil di tengah areal wedangan 'Tiga Tjeret' Jalan Ronggowarsito, Solo, Kamis (26/6/2014), malam. Panggung itu lalu dipakai oleh tiga orang yang malam ini ditunjuk sebagai 'nara sumber' ala kadarnya. Meskipun ada tiga nara sumber tadi, namun siapapun boleh tampil ngomong untuk menimpali atau menambahi pembicaraan sehingga lebih hangat dan cair.
Tiga orang yang ditunjuk sebagai nara sumber adalah Aria Bima, politisi PDIP yang juga menjadi inisiator acara; Hussein Syifa', tokoh muda NU yang juga tokoh Gusdurian asal Solo; dan MT Arifin, pengamat politik militer.
Obrolan yang disampaikan sangat beragam, persoalan Pilpres dan tentu saja 'promosi' pasangan Jokowi - JK digelontorkan dari berbagai tinjauan. Tak hanya 'promosi', tentu saja berbagai isu negatif yang dilekatkan kepada Jokowi - JK selama kampanye, juga dinetralisir dengan berbagai alasan.
Semua obrolan bisa sangat cair dan 'gayeng' karena audiens yang hadir juga beragam. Ada politisi, aktivis, relawan, santri, seniman, budayawan, dan bahkan juga Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, yang ikut bergabung menjelang akhir acara. Acara layaknya orang ngerumpi dan selalu penuh gelak tawa layaknya 'obrolan warung kopi'.
Obrolan jadi semakin hangat ketika MT Arifin mengupas Pilpres dari sudut budaya. Menurutnya Pilpres kali ini layak diibaratkan dengan episode 'Karna Tinandhing' dalam kisah Mahabharata. 'Karna Tinandhing' adalah episode perang antara Karna melawan Arjuna, dua ksatria maha digdaya yang sangat menguras tenaga dan perhatian.
"Dalam perang itu Karna yang berasal dari koalisi besar akhirnya tumbang di tangan Arjuna. Ada kecongkakan dan kesombongan di hati Karna yang akhirnya menghalanginya untuk tampil sebagai pemenang dalam sebuaah pertarungan suci merebut kebenaran," ujar MT Arifin disambut tepuk tangan hadirin, yang merasa bahwa Jokowi yang mereka dukung adalah Arjuna.
Hingga larut malam acara masih berlangsung dengan selingan musik akustik. Bahkan Hadi Rudyatmo juga tampil ikut menyanyi bersama hadirin. Setelah itu, obrolan dilanjut lagi dan tentu saja dengan format obrolan warung kopi yang bebas, lepas, mengalir dan hangat.
(mbr/rvk)











































