Sangarnya Wajah Lautan Manusia di Stasiun Tanah Abang

Sangarnya Wajah Lautan Manusia di Stasiun Tanah Abang

- detikNews
Kamis, 26 Jun 2014 21:35 WIB
Sangarnya Wajah Lautan Manusia di Stasiun Tanah Abang
Suasana di Stasiun Tanah Abang (Khafifah/ detikcom)
Jakarta - Kereta menjadi salah satu moda alternatif favorit warga Jabodetabek untuk berpergian. Terlebih lagi kondisi jalanan Ibu Kota yang seolah sesak dengan kendaraan pada jam-jam istimewa.

Tak ayal, kehadiran kereta seolah menjadi oase penyejuk bagi sebagian orang dengan mobilitas setinggi langit. Tidak kenal macet, adu bunyi klakson bak paduan suara dan pekatnya asap kendaraan yang tanpa ampun mendempul para kesatria jalan.

Namun apa daya kalau si penyejuk itu tidak juga bebas dari hambatan?

Mulai dari karut marutnya sistem lalu lintas perkeretaapian yang tidak jarang mengganggu hingga menumpuknya jumlah penumpang membentuk lautan manusia.

Seperti halnya yang terlihat di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pukul 17.45 WIB sore, Kamis (26/6/2014). Ratusan atau bahkan ribuan manusia menjejali lokasi ini untuk menaiki yang namanya kereta.

Selain bertepatan dengan jam pulang kantor dan letaknya yang strategis, juga dikarenakan musim libur anak sekolahan telah tiba. Belum lagi sistem buka tutup pintu masuk stasiun yang diterapkan selama beberapa hari terakhir guna mengurai kepadatan manusia yang tampak seperti benang kusut berjejalan.

Vivi, salah satu pengguna setia jasa KRL dari Stasiun Tanah Abang, misalnya menjelaskan kalau sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Sehingga tidaklah mengherankan baginya melihat kepadatan penumpang di dalam stasiun yang dekat dengan pasar, surganya berbelanja.

"Sudah biasa Mbak. Setiap hari juga penuh. Tapi memang musim liburan anak sekolah dan mendekati Ramadan ini lebih penuh lagi," ujar Vivi, Kamis (26/6/2014).

Meski tengah berbadan dua, tak mengurungkan niatnya naik moda transportasi besi berbadan panjang ini. Apa alasannya?

"Supaya nggak kena macet dan lebih murah karena jarak stasiun dekat rumah juga. Nggak apa-apa harus penuh gini yang penting nggak banyak ngehirup asap knalpot," terangnya.

Faktor kenyamanan rupanya menjadi dasar Vivi tak gentar naik kereta setiap harinya. Perempuan yang tengah memasuki usia kehamilannya 6 bulan ini juga mengatakan petugas di dalam kereta pun umumnya langsung sigap mencarikannya tempat duduk begitu melihat perut buncitnya.

"Selama ini sih saya selalu diberikan tempat duduk oleh petugas dan penumpangnya. Alhamdulillah nggak pernah nggak dikasih tempat duduk," imbuh Vivi.

Lain lagi dengan Andre. Pria berusia 20 tahun ini mengaku baru pertama kali naik naik kereta dari Stasiun Tanah Abang. Terkejut, itu ekspresi yang tertangkap dari wajahnya melihat 'ganasnya' orang saling berebut masuk ke dalam stasiun ketika gerbang yang dijaga 3 satpam itu dibuka.

"Gila! Gue baru pertama kali ke Stasiun Tanah Abang. Nggak nyangka juga sebanyak ini penuh banget. Kalau nggak karena abis nganterin teman ke sini sih ya. Begitu pintu dibuka orang langsung lari berhamburan gitu," ujar Andre.

Namun dirinya memahami dan memaklumi alasan kenapa orang-orang seperti itu. Mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya ini beranggapan semua orang ingin segera pulang dan 'sumpek' berlama-lama mengantri di tengah lautan manusia.

"Ya wajar sih, gue juga kalau naik kereta dari Stasiun Sudirman juga sering lihat kondisi penuh kayak gini. Tapi emang nggak sepenuh ini sih. Juara!" ungkapnya sembari mengacungkan jempol menutup perbincangan.

(aws/gah)


Berita Terkait