"Sejarah mencatat suatu bangsa atau komunitas bisa rusak akibat narkoba," ujar Boediono dalam sambutan Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional 2014 di Istana Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (26/6/2014).
Boediono bercerita candu mulai digunakan manusia pada 5000 Sebelum Masehi (SM) oleh bangsa Sumeria, sebuah bangsa kuno di Timur Tengah. Baru pada 1000 SM mulai digunakan di Asia Timur, yaitu di Tiongkok, dan semakin merebak pada abad 17 dan 18.
Akhirnya Kaisar Cina pada masa itu melarang penggunaan candu di masyarakat Tiongkok karena penggunaannya sudah sangat berlebihan dan juga masalah sosial yang ditimbulkannya.
"Pemanfaatannya dapat ditekan laju pertumbuhannya, tetapi untuk menekannya hingga nol agak sulit," imbuhnya.
Pada abad 18 dan 19, konsumsi teh cina sangat melesat terutama di Inggris. Akibatnya impor teh cina sangat melonjak pada abad 19.
"Inggris mengalami keterbatasan dalam pembayaran, sehingga dieksporlah kapas dari India ke Tiongkok untuk membayar impor teh," jelasnya.
Tetapi ekspor kapas dari India tidak mencukupi untuk membayar impor teh dari Tiongkok ke Inggris. "Akhirnya pihak Inggris memutar otak, dan akhirnya ketemu satu barang yang supply-nya melimpah, dan kalau dijual di Tiongkok cukup laku yaitu candu dari wilayah Benggala," kata Wapres.
Candu itu diselundupkan dan dijual dengan cara tidak resmi, bahkan dilakukan juga penyuapan para pejabat yang bisa menghalangi masuknya candu oleh pihak Inggris. Bahkan lebih jauh, beberapa eskportir candu ini memberikan sampel gratis kepada penjualnya.
"Melihat perkembangan seperti ini, Pemerintah Tiongkok memberikan respon cukup keras. Semua gudang-gudang yang berisi candu dibakar oleh Pemerintah Tiongkok," tuturnya.
Pemerintah Tiongkok meminta semua pedagang dari Inggris untuk menandatangani pernyataan untuk berkelakuan baik. Upaya ini mendapat respon keras dari Pemerintah Inggris, sehingga pada tahun 1839-1842 terjadilah penyerangan oleh tentara Inggris ke Tiongkok, dan terjadilah Perang Candu atau yang dikenal sebagai Opium War.
Dalam perang itu, tentara Tiongkok kalah karena kemampuan persenjataan yang digunakan jauh di bawah persenjataan yang digunakan tentara Inggris.
"Satu lagi masalah, sebagian besar tentara Tiongkok memiliki ketergantungan pada candu. Itu faktor kekalahan Tiongkok," ungkapnya.
Saat ini, lanjut Boediono, Indonesia menghadapi jaringan penjual narkoba internasional dan mereka ingin terus menjual narkoba kepada bangsa yang lemah.
"Cara yang terbaik adalah menangkalnya sebelum merebak dan memotong mata rantainya. Dan semua itu tidak mungkin hanya dilakukan oleh negara, tetapi harus menjadi gerakan bersama, gerakan nasional," jelasnya.
Boediono mengingatkan jika kita tidak melakukan gerakan apapun, maka angka prevalensi penyalahgunaan narkoba akan terus meningkat.
"Diperkirakan bisa mencapai hingga 5 juta orang. Yang banyak terkena adalah generasi muda, orang-orang yang kita harapkan mengganti kita semua, yang diharapkan menjadi generasi yang lebih baik dari kita," ujar Wapres.
Dikatakannya, saat terjadi terjadi Perang Candu, angka prevalensi pengguna candu di Tiongkok pada abad 19 mencapai 10%.
(mpr/ndr)











































