"Wajar kalau Nusron menggugat atas pemecatan dirinya dari Golkar. Pemecatan ini lebih terasa selera pimpinan daripada sebuah peraturan," kata Hasyim dalam siaran pers dari Tim Jokowi-JK, Kamis (26/6/2014).
Sebab bila penegakan aturan, kata Hasyim, semestinya Jusuf Kalla dan Luhut Panjaitan yang dipecat lebih dulu. Karena Kalla mencalonkan diri sebagai cawapres Jokowi dan Luhut adalah tim sukses resmi Jokowi-JK.
Hasyim juga menilai DPP Partai Golkar, sebelum memecat figur seperti Nusron, seharusnya memahami esensi suara rakyat. Sebab Nusron adalah caleg peraih suara terbanyak di Golkar untuk Pileg 2014.
Sebagai caleg, kata Hasyim, Nusron mewakili suara 243 ribu pemilih. Logikanya bila Nusron benar dipecat, sama dengan 'memecat' 243 ribu warga pemilihnya, serta mengalihkan perwakilan rakyat yang seharusnya kepada Nusron diberikan kepada orang lain.
"Suara 243 ribu sebagai suara terbanyak di Golkar yang diraih Nusron di dapilnya pasti suara kaum Nahdliyin. Bagaimana kalau dialihkan ke orang lain?" tukas Hasyim.
Pada kesempatan itu, Hasyim juga menekankan bahwa seandainya Nusron menjadi korban ketidakadilan politik , dia masih bisa kembali ke keluarga sendiri yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
"Dan saya akan dukung Nusron. Kalau ternyata ikut tetangga lebih sengsara daripada di rumah besar NU sendiri. Anak muda seperti Nusron tidak selayaknya semangatnya dipatahkan oleh yang tua-tua," kata Hasyim.
"Kalau sekarang dia (Nusron) berjuang karena keyakinan NU-nya, berarti memang Golkar sudah tidak pantas untuk dititipi suara NU," tegas Hasyim.
(trq/mok)











































