Dalam sesi tanya-jawab, Prabowo menanyakan langkah Jokowi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Jokowi menilai MEA adalah fakta yang tidak bisa terhindarkan.
Namun, Jokowi menekankan bahwa kunci untuk menghadapi MEA 2015 adalah daya saing. Indonesia akan mampu menjadi pemain besar di ASEAN jika punya daya saing mumpuni.
Jokowi juga menyebutkan peran para duta besar Indonesia di berbagai negara sangat penting. Duta besar harus juga berperan sebagai semacam promotor ekonomi Indonesia.
Sutrisno Iwantono, mantan ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), mengapresiasi hal tersebut. "Itu adalah visi yang sangat tepat, khususnya bagaimana Indonesia berperilaku dalam menghadapi MEA 2015. Daya saing memang menjadi faktor kunci," katanya kala berbincang dengan detikcom, Kamis (26/6/2014).
Persaingan usaha di level ASEAN, lanjut pria yang akrab disapa Iwan ini, tidak sederhana. Dia menilai langkah Jokowi dengan memberdayakan duta besar sangat tepat.
"Agar bisa masuk ke pasar ASEAN, menjadi pelaku yang bisa bersaing, visi Jokowi itu menyerang. Para dubes diberdayakan, mereka memang seharusnya menjadi duta ekonomi Indonesia," tegas Iwan.
Cara seperti ini, tambah Iwan, masih tergolong sebagai persaingan yang sehat. "Itu masih fair, sehat. Konsep ini harus diapresiasi dan itu bisa diimplementasikan untuk 5 tahun ke depan," tuturnya.
Selain memanfaatkan peran para duta besar, menurut Iwan, Indonesia juga harus membangun ekonomi yang efisien, produktif, dan inovatif. Ini bisa dicapai dengan cara membangun persaingan sehat di antara para pelaku usaha.
"Membangun daya saing itu harus dengan memberdayakan pelaku usaha agar bisa berbisnis dengan cara-cara sehat. Intinya efisiensi, produktivitas, inovasi. Kalau orang unggul di 3 ini, bisa bersaing di pasar tanpa melakukan kegiatan unfair," jelasnya.
(hds/ndr)










































