Para alumni tersebut terdiri dari mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Seruan tersebut dalam rangka memberikan dukungan kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
"Baju bermotif kotak-kotak memiliki filosofi yang sejalan dengan Indonesia. Motif kotak merupakan simbol atau lambang kebhinekaan," kata Stefanus Gusma, mantan Ketua Umum PMKRI dalam jumpa persnya di Restoran Sari Kuring, Jl. Jenderal Sudirman, SCBD, Jakarta, Kamis (26/6/2014).
"Kotak-kotak adalah lambang miniatur Indonesia yang hidup dalam multikulturalisme," kata Yozthin Thelik, mantan Ketua Umum GMKI, menambahkan.
Masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, dan ras, diibaratkan seperti kotak-kotak yang tergambar dalam baju Jokowi. Sosok Jokowi yang erat dengan figur merakyatnya, menurut Stefanus, sangat cocok untuk menjadi pemimpin Indonesia.
Namun, melihat ajang pemilihan presiden tahun ini banyak diisukan dengan kampanye hitam berbau SARA, tokoh-tokoh muda lintas agama ini ingin mengimbau kepada masyarakat agar tidak ikut terpengaruh dengan isu-isu seperti itu.
"Kami pemuda-pemuda yang berbeda agama. Kami peduli dan ingin pemilu bersih dan damai," kata Noer Fajrieansyah, mantan Ketua Umum HMI.
Alumni Cipayung merupakan gabungan dari mantan ketua kelompok pemuda lintas agama yang ada di Indonesia. Hadir di dalam jumpa pers yaitu mantan Ketua Umum HMI Noer Fajrieansyah, mantan Ketua Umum PMII Addin Jauharudin, mantan Ketua Umum PMKRI Stefanus Gusma, mantan Ketua Umum GMKI Yozthin Thelik, dan mantan Ketua Umum IMM Sudarto.
(brn/brn)











































