"Pemecatan yang saya terima, saya anggap sebagai 'teguran halus'. Saya memahami Pak Ical dan Idrus Marham. Mereka mendapat tekanan yang membuat mereka berdua bersikap seperti ini. Ada semacam order dan kita tahu dari mana itu," kata Nusron saat berbincang dengan detikcom, Kamis (26/6/2014).
Nusron menyebut Tim Prabowo-Hatta khawatir dengan peningkatan elektabilitas Jokowi. Pemecatan dirinya dan dua kader Golkar lain dianggapnya sebagai upaya untuk menjegal kenaikan tren Jokowi-JK.
"Tingginya elektabilitas Jokowi inilah yang menjadi penyebab. Berbagai cara dilakukan mengeremnya. Baik lewat kampanye hitam maupun mendesak agar saya, Poempida dan Agus Gumiwang Kartasasmita, dikeluarkan dari Golkar," ujar pria 40 tahun kelahiran Kudus ini.
Karena itu, lanjutnya, kendati dirinya dipecat dari Golkar, dia memastikan tidak akan keluar dari Golkar apalagi mencari partai lain.
"Saya berjuang bersama Pak Jokowi-JK karena panggilan nurani dan memperjuangkan sesuatu yang benar. Karena capres yang kami dukung memberikan harapan perubahan bagi bangsa Indonesia yang jauh lebih baik," ujar pemilik suara tertinggi di Golkar dalam Pileg 2014 ini.
"Kepada seluruh masyarakat Indonesia, termasuk sahabat-sahabat saya, baik di Golkar, Ansor, warga NU, marilah kita suarakan keyakinan kita dengan bersama-sama mendukung Pak Jokowi dan JK," imbuh Ketua Umum GP Ansor ini.
(trq/nrl)











































