Seorang pria berikat kepala hitam, berkaus putih, dan bercelana panjang hitam memasuki arena pertunjukan. Rambut panjangnya diikat ke belakang. Hampir seluruh rambutnya memutih, begitu juga warna kumis dan janggutnya.
Meski terlihat tak lagi muda, tubuh pria berkulit sawo matang ini terlihat besar dan tegap. Namanya Raden Nasan Sujana Kusuma, seorang pemain debus dari Padepokan Jikprak, Bogor, yang tengah beraksi memeriahkan suasana rumah pemenangan Prabowo-Hatta.
Di hadapan pria berusia 82 tahun tersebut, digelar sebuah kain hitam berbentuk segi empat. Di atasnya, terdapat tumpukan barang pecah belah yang ditata tak beraturan. Di sebelahnya, tiga batang pelepah pisang dan sebuah tampah plastik berwarna merah, berisikan sebuah keris, sebuah vas bunga, dan dua buah sayur kol.
Pria yang akrab disapa Abah Jana tersebut menari-nari, memainkan tiga helai kain berwarna merah, hitam dan putih yang dibawanya. Lantas, ia menggerakkan kakinya dengan lincah memutari panggung mengikuti alunan musik.
Kain tiga warna tersebut bermakna tersendiri bagi abah pimpinan padepokan tersebut. "Putih artinya manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Merah pemberani, tapi mengajarkan berani untuk benar. Kalau hitam, warna kegelapan, ingat kepada hidup kita," tuturnya.
Setelah menari dengan kain, ia menunjukkan kelihaiannya bermain debus. Diambilnya sebuah keris yang tegeletak di atas tampah. Mulanya, keris tersebut ia gunakan untuk membelah pelepah pisang. Nampaknya, ia ingin menunjukkan ketajaman keris tersebut.
Sejurus kemudian, ia melakukan hal yang sama, menyayatkan keris tersebut ke lengan tangan sebelah kirinya, perut, pipi, dan paha sebelah kanan. Sontak, ratusan penonton atraksi yang dihelat di Rumah Polonia, Jakarta tersebut, menjadi riuh.
Abah Jana melanjutkan atraksi dengan membiarkan tubuh dan kepalanya terbaring di atas tumpukan kaca pecah belah. Teriakan melengking dan gemuruh tepuk tangan terdengar memecahkan keheningan yang sempat tercipta sejenak. Abah kembali menari, mengakhiri atraksi. Setelah menunjukkan kelihaiannya bermain debus, pria Sunda tersebut memberikan salam kepada penonton.
Usai beraksi, pria yang mendalami seni debus sejak tahun '70 ini menuturkan harapannya untuk pemilu presiden yang bersih. "Jangan saling fitnah memfitnah. Ini merusak. Jangan menghujat. Maka golput akan banyak. Kita mencari kemenangan, untuk kejayaan negara Indonesia," tuturnya ketika ditemui di belakang panggung, Rabu (25/6/2014).
(trq/trq)










































