Lettu Aditia Batal Rayakan Natal Bersama Ibunda dan Istri
Jumat, 24 Des 2004 13:00 WIB
Jakarta - Lettu (Pnb) Petrus Aditia Herlambang menjadi korban tewas jatuhnya heli NAS 332 VIP Super PUMA milik TNI AU di Wonosobo. Aditia meninggalkan seorang istri yang sedang hamil dua bulan. Aditia juga batal merayakan Natal bersama ibundanya. Ny Waluyo, ibunda Aditia tampak terpukul atas kematian anak kesayangannya itu. Saat ditemui wartawan di Skuadron Udara-17 Lanud Halim Perdanakusuma di sela-sela menunggu kedatangan jenazah dari Yogyakarta, Jumat (24/12/2004), Ny Waluyo tampak sedih dan menitikkan air mata. Namun, dia tampak tetap tabah. Sambil menangis, Ny Waluyo menceritakan saat-saat terakhir dirinya berkomunikasi dengan Aditia. Kontak terakhir Aditia dengan Ny Waluyo terjadi pada pukul 10.30 WIB, Kamis (23/12/2004) kemarin. Saat itu, Aditia menelepon ibundanya dari Yogyakarta. Saat menelepon, Aditia meminta Ny Waluyo menjemputnya di Skuadron Udara-17 pukul 13.00 WIB. Dia meminta dijemput karena ingin merayakan Natal bersamanya. "Saya disuruh menjemput di sini. Dia mau natalan sama saya. Dia telepon saya jam 10.30 siang kemarin. Dia bilang, Ma, saya jemput di sini, di skuadron -17. Jangan sampai terlambat. Saya ke sini jam satu siang," kata Ny Waluyo. Kamis kemarin, Ny Waluyo pun datang ke Skuadron-17. Tepat waktu, pukul 13.00 WIB. Tapi, anak yang ditunggunya itu tidak kunjung datang. "Saya tunggu sampai jam 17.00 WIB, tapi tidak datang-datang. Padahal, saya sudah menyiapkan acara syukuran, karena memang setelah perayaan Natal, dia mau pindah ke Lombok. Tapi, ternyata musibah terjadi padanya," kata Ny Waluyo terisak.Saat menunggu jenazah Aditia, Ny Waluyo didampingi istri Aditia, Desi. Istri Aditia juga tampak terpukul atas kematian suaminya. Desi bercerita bahwa dirinya menikah dengan Aditia sepuluh bulan lalu. Dan kini, Desi sudah mengandung anak Aditia. "Tidak ada pesan apa-apa sebelumnya dan tidak punya firasat apa-apa. Cuma pada pertemuan terakhir, Jumat pekan lalu, dia pergi hanya bersalaman, seperti kepada teman. Padahal, kalau mau pergi, saya selalu cium tangan. Memang tidak seperti biasanya. Tapi, saat itu, saya tidak punya pikiran apa-apa," kata Desi yang juga berurai air mata. Sehari-hari, Aditia bersama istri dan ibundanya tinggal di Jl. Dirgantara I nomor 319, Kompleks Halim Perdanakusuma. Setelah tiba di Lanud Halim, jenazah akan disemayamkan terlebih dulu di rumah duka. Selanjutnya, jenazah akan dimakamkan di TPU Kebon Pala, Jakarta Timur.
(asy/)











































