Kenali Sebelum Jadi Dongeng

Perburuan Raja Hutan di Riau (4)

Kenali Sebelum Jadi Dongeng

- detikNews
Jumat, 24 Des 2004 11:57 WIB
Jakarta - Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan jenis kucing terbesar baik yang masih eksis ada maupun dilihat dari penemuan fosilnya. Harimau ini juga merupakan salah satu jenis mamalia yang paling diketahui kehidupannya. Harimau umumnya dibagi menjadi beberapa subspesies yaitu harimau Bengal, harimau Caspian, harimau Amur, Harimau China Selatan, harimau Indo China, harimau Jawa, harimau Bali, dan harimau Sumatera. Harimau Kaspian, harimaun Bali dan harimau Jawa telah punah sejak 1940-an.Mulanya harimau berasal dari Asia Timur. Kemudian menyebar keberbagai daerah kira-kira dua juta tahun yang silam. Dari Barat Laut, harimau bermigrasi ke daerah berpohon dan sistem sungai di Asia Barat Daya. Sedang dari Selatan dan Barat Daya, harimau bergerak kedaratan Asia Tenggara, beberapa di antaranya menyeberang ke kepuluan Indonesia dan lainnya berakhir di India.Harimau China diyakini merupakan cikal bakal harimau. Harimau China memiliki morfologi tengkorak yang primitif, penduknya bagian cranial dan penampakan lekukan mata lebih jelas.Kuning kemerahan sampai kuning pucat dengan loreng hitam dan putih merupakan ciri utama. Loreng setiap harimau berbeda-beda, demikian juga dari bagian kedua sisi harimau juga berbeda. Loreng bervariasi dalam jumlah, juga ketembalannya serta kecenderungan untuk terpecah untuk menjadi bintik-bintik.Garis hitam di atas mata biasanya simetris, tetapi penampakan wajah kedua sisinya, bisa saja berbeda.Tidak ada dua harimau yang mempunyai penampakan yang sama. Jantan biasanya mempunyai kerut lebih mencolok, khususnya yang ditampakan oleh harimau Sumatera.Biasanya harimau hidup soliter, kecuali betina dan anak, mereka tidak antisosial. Jantan bergabung dengan betina, untuk kawin dan pernah teramati jantan dengan betina dan anaknya saat makan atau istirahat. Tidak seperti kebanyakan jenis kucing lain, harimau denga mudah memasuki air. Selama musim panas mereka akan berendam di danau atau kolam sepanjang hari yang panas. Harimau dapat berenang sejauh delapan kilometer seperti yang terjadi antara daratan Malaysia ke Pulau Penang.Harimau betina mempunyai masa reproduksi pertama pada usia 3-4 tahun, sedangkan harimua jantan pada 4,8 tahun. Mereka umumnya berburu antara sore dan pagi hari, tetapi dalam beberapa kondisi harimau berburu siang hari. Hewan mangsa harimau adalah seluruh satwa yang ada dihabitat mereka, yang terdiri dari berbagai jenis rusa,babi,kerbai dan banteng. Harimau juga memangsa anak gajah dan badak, serta jenis lainnya yang lebih kecil, termasuk monyet, burung, reptil dan ikan. Binatang buas ini dapat memakan 18 sampai dengan 40 kg daging mangsanya dalam sekali makan. Harimau sewaktu-waktu juga membunuh dan memakan jenis mereka sendiri, serta carnipora lainnya termasuk beruang yang beratnya mencapai 170 kg. Harimau biasanya menerkam mangsa yang besar diawali dengan mengintai dari belakang dan berakhir memburu mangsanya, terkadang melompat atau menerkam mangsanya. Sifat khas harimau adalah, mencengkeram keleher mengsanya setelah merubuhkannya hingga mangsanya mati. Harimau mencengkeram leher mangsanya ini, untuk melindungi dirinya dari tanduk, dan kaki serta mencegah hewan mangsanya untuk dapat tegak kembali.Harimau Sumatera jantan beratnya berkisar 100-140 kg, dengan pajnag dari kaki belakang dan depan 2,20-2,55 m. Panjang tengkorak 299-335 milimeter. Untuk betina beratnya antara 75-100 kg ukuranhya lebih penduk, yakni, 2,15-2,30 m dan panjang tengkorak 263-294 milimeter. Si raja hutan ini pada dasarnya, tidak memangsa manusia, terkecuali habitatnya terganggu sudah tua dan sakit-sakitan atau terluka. Beberapa korban timbul karena konfrontasi eksidental atau sebagai reaksi mempertahankan diri dan melihat tubuh manusia sebagai makanan sehingga manusia menjadi target karena dianggap hewan mangsa yang mudah ditangkap."Namun pada dasarnya harimau akan selalu menghindar bila bertemu dengan manusia. Tapi lain hal, bagi harimau tua dan sakit-sakitan. Biasanya dengan kondisi tubuh mereka yang tidak mampu berburu, maka manusia akan dijadikan mangsanya, karena manusia lebih mudah untuk dibunuh," ungkap Tehnical Advisor Sumatran Tiger Projek, Neil Franklin.Tapi, kondisi memangsa manusia ini masih erat kaitanya dengan habitat harimau yang telah terganggu. Sebab harimau memiliki luas jelajah sekitar 100 hektar. Kini yang menjadi persoalan, terkecuali masalah perburuan liar, tentunya semakin menipisnya luas jelajah harimau itu sendiri, dimana pembukaan lahan perkebunan dan pemukiman penduduk terus bertambah.Dengan habitat yang terganggu otomatis hewan yang akan dijadikan mangsa harimau pun berkurang. Hal itu sangat memungkinkan harimau untuk memasuki kawasan pemukiman penduduk untuk dapat mencari makan mereka. "Kondisi itulah yang membuat terjadinya konflik antara manusia dan harimau," kata Neil yang meraih gelar doktor dibidang penelitian harimau.Menyusul tingkat konflik yang tinggi antara warga di beberapa kawasan di Provinsi Riau dengan harimau sumatera maka Pemerintah Kota Dumai mengalokasikan lahan seluas 60.000 hektar di hutan Senepis sebagai kawasan konservasi hewan langka tersebut. Dengan demikian maka setiap harimau sumatera yang tertangkap di wilayah Riau dapat dievakuasi ke hutan Senepis tersebut, bukan ke Taman Safari Bogor, Jawa Barat, seperti yang dilakukan sebelumnya.Luas lahan yang disediakan sebagai kawasan konservasi harimau Sumatera di hutan Senepis itu adalah 60.000 hektar. Kawasan tersebut dibagi atas dua bagian yakni kawasan inti seluas 40.000 hektar dan sisanya digunakan sebagai kawasan penyangga."Kawasan konservasi harimau sumatera ini diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan terakhir bagi harimau Sumatera, sehingga bisa tetap dipertahankan keberadaannya," kata Jumas Kepala Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Dumai.Menurutnya penetapan hutan Senepis sebagai kawasan konservasi harimau Sumatera tersebut dapat terlaksana setelah Pemerintah Kota Dumai secara resmi menetapkan penggunaan kawasan itu sebagai hutan wisata alam sekaligus sebagai kawasan konservasi hewan langka. Hal tersebut diperkuat dengan persetujuan dari Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Lingkungan Hidup Departemen Kehutanan."Sudah mendapatkan persetujuan dari Dirjen Perlindungan Hutan dan Lingkungan Hidup. Persetujuan itu diberikan karena sebelumnya kami sudah melakukan studi kelayakan bersama Dinas Kehutanan Dumai tentang kemungkinan dibentuknya hutan Senepis sebagai kawasan konservasi harimau sumatera," kata Jusman.Hasil studi kelayakan tersebut menyebutkan bahwa kondisi hutan Senepis merupakan kawasan yang sangat layak digunakan sebagai kawasan konservasi harimau Sumatera. Hal tersebut terjadi karena sebelumnya, kawasan Senepis itu memang sudah menjadi habitat harimau Sumatera itu sendiri. Selain itu, kondisi hutannya masih sangat asli, sehingga dapat menjamin ketersediaan pakan bagi harimaui. Bahkan di dalamnya masih ada hewan-hewan langka lainnya seperti beruang madu. (diks/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads