Suka Duka Mengajar di Pelosok Papua: Ditinggal Murid Kabur atau Ngumpet

Suka Duka Mengajar di Pelosok Papua: Ditinggal Murid Kabur atau Ngumpet

- detikNews
Selasa, 24 Jun 2014 16:31 WIB
Suka Duka Mengajar di Pelosok Papua: Ditinggal Murid Kabur atau Ngumpet
(Foto: Endro Priherdityo)
Jakarta - Mengajar anak-anak di pedalaman butuh ketelatenan. Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang masih rendah beririsan dengan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari menjadi dinamika. Seperti yang dialami Hulaimah yang mengajar di pelosok Papua selama 9 bulan.

Hulaimah merupakan salah satu relawan dari Relawan Guru Sobat Bumi, program dari Pertamina Foundation. Dia menceritakan suka dukanya mengajar di pedalaman Ubiyau, Kabupaten Keerom, Papua. Dia harus menghadapi bahwa keluarga murid yang diajarnya terkadang tidak mendukung sang anak untuk bersekolah.

"Orang tua murid saya banyaknya lebih mengutamakan anaknya ikut berladang dibanding ke sekolah. Mereka pun seringkali tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya sehingga di kelas anak-anak mengantuk dan kelaparan," tutur Hulaimah.

Hulaimah menyampaikan itu di sela-sela resepsi penerimaan 12 relawan setelah 9 bulan mengajar, bertempat di Gedung Pertamina Foundation, Jalan Sinabung II Terusan Simprug, Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2014).

Dirinya juga menceritakan, seringkali anak didiknya 'melarikan diri' dari kelas akibat jenuh dan kelaparan saat mengikuti kegiatan belajar.

"Murid saya ada yang izin ke kali untuk buang air dan tidak kembali lagi. Ternyata dia malah berenang. Yang lainnya ada juga manjat ke pohon matoa dan ngumpet di lemari. Mereka bosan di kelas," celoteh perempuan berjilbab ini.

Kali lain, dia terkejut mendapati kelas yang diasuhnya kosong melompong. Tak ada satu pun murid yang masuk selama berhari-hari selama sepekan.

"Waktu itu sekolah pernah libur seminggu, nggak ada murid karena ada seseorang di desa sebelah meninggal. Sangkut pautnya dengan anak-anak SD apa?" kata Hulaimah gusar.

Dia lantas memutar otak agar para muridnya antusias untuk sekolah dan belajar. Caranya, dengan mengajak murid-muridnya belajar di alam terbuka.

"Ternyata dengan mengajak mereka langsung praktik di alam, mereka jadi lebih semangat dan langsung paham. Ya mungkin karena lingkungan tempat
tinggal mereka yang memang dekat dengan alam," imbuh staf pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh yang bertugas mengajar kelas 3 SD ini.

Menurut Hulaimah, sebenarnya sudah ada guru-guru yang dikirim dari luar daerah untuk mengajar di pedalaman. Namun, faktanya jarang ada yang betah untuk rutin mengajar dan tinggal di sana.

"Guru pendatang seringkali datang mengajar seminggu atau sebulan sekali, suka-suka mereka. Alasannya ya jarak yang jauh dan transportasi," jelas dia.

Daerah tempat Hulaimah mengajar memang tergolong pedalaman. Listrik tidak ada, sinyal telekomunikasi sangat lemah, jalan berbatu dan berlumpur, jembatan seringkali hilang saat hujan. Ketika hujan maka jalanan akan menjadi kubangan lumpur hingga sedengkul. Kondisi daerah yang juga jauh dari ibukota kabupaten inilah yang menurut Hulaimah menyebabkan guru-guru pendatang tidak betah meski sudah disediakan fasilitas dan tunjangan yang memadai.

"Padahal masyarakat sudah menerima banget ada guru pendatang, tapi merekanya yang nggak betah. Yah meski ada juga sekolah yang disegel karena
masyarakatnya nggak suka ada sekolah. Mending anaknya bantuin ke ladang. Memang perlu guru-guru yang punya dedikasi terhadap pendidikan, bukan cuma sekadar profesi," kata Hulaimah.

Menurut Hulaimah, pemerataan pendidikan di Indonesia memang sangat diperlukan. Karena kualitas anak-anak di daerah tertinggal tersebut tidak
kalah dibandingkan dengan daerah yang maju seperti di Pulau Jawa.

"Mereka bisa kok sebenarnya. Cuma memang kesadaran lingkungan di sana yang belum memprioritaskan pendidikan buat anak-anak," tutupnya.

(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads