Hal itu disampaikan saat diskusi Gerakan Dekrit Indonesia dengan tajuk "Negara Kuat Anti Intimidasi dan Ketahanan Nasional Anti Kekerasan: Menilik Debat Putaran Ketiga" yang digelar di Cafe Deli, Jakarta, pada Senin (23/6).
Hadir dalam acara ini Kordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar, Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice Riza Damanik, Peneliti Institute for Development and Democracy Arif Susanto, Koordinator Institut Hijau Indonesia Chalid Muhammad, Pengamat Ekonomi Danny Setiawan, Direktur Eksekutif Pro Patria Hari Prihartono, Pendiri Setara Institute Benny Susetyo serta Pendiri Lingkar Madani Ray Rangkuti.
"Kedua kandidat tidak cukup berhasil mengaitkan isu pertahanan dengan luar negeri. Persoalan yang seolah-olah berdiri sendiri," tutur Haris Azhar. Namun, Ia mengapresiasi kedua capres yang mengungkapkan bahwa ASEAN merupakan sektor penting. Terlepas dari hal itu, ia menyayangkan ketidakjelasan jawaban capres mengenai strategi agar berjaya di ASEAN. "Apakah ekonomi maritim? Itu tidak terjawab," ucap Haris.
Haris mengapresiasi ide Jokowi mengenai pesawat tanpa awak. Namun, menurutnya, Jokowi kurang menjelaskan secara lebih detail pengadaan pesawat tanpa awak yang akan memakan biaya besar itu. "Di lain sisi, Prabowo seperti takut mendiskusikan polutik luar negeri lebih jauh. Ia tampak seperti perpanjangan tangan SBY," terang Haris.
Sementara itu, Riza Damanik menyayangkan absennya isu lingkungan dan perubahan iklim dalam debat capres. "Negara berkembang dan miskin menaruh harapan pada Indonesia karena Indonesia secara ekonomi, populasi, serta geografi, sangat relevan membicarakan perubahan iklim," terang Riza. Ia mengatakan, berdasarkan penelitian yang ada, suatu saat akan ada sebanyak 200.000 warga dunia yang menjadi pengungsi iklim.
Chalid Muhammad pun mengamini Riza soal perlunya pembicaraan perubahan iklim. "Harusnya capres bisa menegaskan kalau Indonesia akan mengajak negara-negara lain untuk menekan Jepang, Amerika, dan Cina untuk menekan emisi energi mereka yang sangat tinggi itu," tuturnya.
Bukan hanya masalah materi debat, para aktivis ini juga mengkritik teknis debat yang kurang efektif. "Tidak ada panelis. Harusnya ada panelis yang bisa mengejar gagasan-gagasan capres," ujar Benny Susetyo. Sementara, Danny Setiawan menyayangkan peran moderator yang dirasanya kurang punya peran. "Profesor hanya jadi penjaga waktu," katanya.
(trq/trq)










































