Ruhut pernah mendapat peringatan keras dari Nurhayati gara-gara terus meminta Anas Urbaningrum yang kala itu masih menjadi Ketua Umum PD untuk mundur. Diingatkan Nurhayati, Ruhut kala itu malah menantang. Tak hanya menantang, Ruhut bahkan mengungkit bahwa Ketua Fraksi yang kala itu belum jadi Waketum PD tak akan mampu mengangkat citra PD.
"Siapa pun itu, Anas, Ruhut, Saan, Nenek Lampir itu tak bisa menaikkan polling Demokrat. Hanya tokoh SBY yang bisa membesarkan partai," kata Ruhut dalam dialektika 'Saling Sandera Parpol' di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (5/7/2012) lalu.
Namun kisruh itu seolah menguap begitu saja. Ruhut menyebut Nurhayati sebagai 'ibu cantik jelita' saat diajukan oleh FPD sebagai Ketua Komisi III DPR. Namun mimpi Ruhut menjadi Ketua Komisi III tinggal kenangan saat anggota komisi hukum itu menolak kepemimpinan Ruhut.
Kabarnya ada sejumlah elite PD termasuk Nurhayati yang tak mau Ruhut jadi Ketua Komisi III DPR. Hubungan Ruhut dan Nurhayati pun kembali renggang.
Namun seiring waktu, ketegangan Ruhut dan Nurhayati kembali melunak. Apalagi Ruhut kembali ditunjuk menjadi juru bicara Partai Demokrat.
Di saat hubungan yang sedang baik-baiknya, Nurhayati kembali bermanuver. Waketum PD itu terkesan 'mengusir' Ruhut yang terang-terangan menyatakan dukungan ke Jokowi-JK. Nurhayati sendiri telah mendeklarasikan dukungan ke Prabowo-Hatta. Menurut Nurhayati, sikap mendukung Jokowi-JK itu menyalahi hasil Rapimnas PD. Meskipun Ketum PD SBY menegaskan sikap PD netral.
"Sebetulnya lebih gentleman Ruhut untuk mundur. Itu akan lebih baik dan terpuji," kata Nurhayati kepada wartawan di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Senin (23/6/2014).
Si Ruhut pun tak tinggal diam. Lagi-lagi dia melawan 'ibu cantik jelita'. "Coba yang lain di kubu Jokowi suruh mundur. Mak Lampir jangan banyak omong!" kata Ruhut di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (23/6/2014).
Lalu apa ujung kisruh Nurhayati dan Ruhut soal pilihan ke Prabowo dan Jokowi ini?
(van/nrl)











































