"Dua teknik itu timing, diulang-ulang dan triming berbeda dengan framing," kata pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Prof Hamdi Muluk kepada detikcom, Senin (23/6/2014).
Prabowo yang kerap mengulang kata kebocoran atau bocor, menurut Hamdi, sebagai bentuk retorika untuk melawan aksi korupsi. Kebocoran yang selalu disebut Prabowo adalah kebocoran kekayaan negara melalui tindakan-tindakan koruptif.
"Sepertinya Prabowo konsisten ke depan gaya debat begitu, apapun topik dikembalikan ke kebocoran. Mungkin yang dimaksud kebocoran itu adalah kekayaan besar negara dibawa kabur keluar negeri, walaupun tidak begitu jelas detilnya. Saya kira kebocoran yang dia maksud adalah korupsi. Hal ini juga bisa menimbulkan pemikiran bahwa, bagi Prabowo, Indonesia dikuasai asing dan harus mengembalikan kewibawaan bangsa," ujar dosen psikologi ini.
Sementara kata 'yang kedua' dan diulang dua kali oleh Jokowi menurut Hamdi sudah sangat jelas pesannya, yaitu nomor urut Jokowi-JK dalam Pilpres 2014. Namun menurut Hamdi, jika Jokowi selalu mengulangi hal tersebut maka tidak efektif dalam upayanya mengingatkan masyarakat atas nomor urutnya tersebut.
"Kalau orang sudah mengenal nomor urut satu mana dan nomor urut dua mana, mungkin tidak efektif juga. Itu efektif kalau orang harus mengingat nomor urut yang banyak, ini kan cuma dua. Tidak efektif juga berkali-kali," tutup Hamdi.
(vid/ndr)










































