3 Hal yang Tak Disepakati Prabowo Dari Jokowi

3 Hal yang Tak Disepakati Prabowo Dari Jokowi

- detikNews
Senin, 23 Jun 2014 06:49 WIB
3 Hal yang Tak Disepakati Prabowo Dari Jokowi
Jakarta - Debat capres ketiga dengan tema 'Politik Internasional dan Ketahanan Nasional' diwarnai oleh beberapa hal yang tidak disepakati capres Prabowo Subianto dan capres Joko Widodo. Padahal Prabowo kadang menyepakati hal yang dilontarkan Jokowi.

Sedikitnya ada tiga hal yang tidak disepakati oleh Prabowo dan Jokowi berdasarkan rangkuman detikcom, Senin (23/6/2014). Mulai dari masalah jawaban teoritis hingga penjualan aset Indosat.

Walau ada ketidaksepakatan, kata 'sepakat' tetap dilontarkan Prabowo atas suatu jawaban dari Jokowi. Namun ketidaksepakatan yang muncul ini sempat membuat panas jalannya debat yang dimoderatori oleh Hikmahanto Juwana.

Berikut tiga hal yang tidak disepakati Prabowo dan Jokowi:

1. Jawaban Teoritis

Tiba-tiba Prabowo Subianto melontarkan pernyataan 'menyerang' saat Joko Widodo menjawab pertanyaannya secara normatif. Prabowo tak setuju dengan jawaban yang dinilainya terlalu teoritis tersebut.

"Jadi kadang-kadang kita gampang dengan slogan dengan jawaban-jawaban teoritis. Tapi masalahnya bapak sendiri mengatakan kita tinggal setahun. Jadi tidak semudah itu bapak katakan kita hadapi serangan, satu tahun kita buat industri yang bisa menahan," kata Prabowo dalam debat capres Minggu (22/6) kemarin.

Respon ini disampaikan Prabowo ketika Jokowi menjawab pertanyaan mengenai upaya peningkatan daya saing nasional terkait ASEAN Community 2015. Bagi Prabowo, peningkatan daya saing itu harus realistis seperti menutup kebocoran.

"Mari kita realistis benahi diri, kita hemat anggaran, hemat APBD, hemat APBN. Tutup kebocoran, tutup kebocoran, tutup kebocoran, itu baru kita punya uang. Kita punya investasi baru kita kompetitif hadapi serangan dari luar," ujar Prabowo.

Jawaban Jokowi adalah penekanan diplomasi melalui fungsi duta besar. Jokowi ingin diplomasi duta besar dititikberatkan pada perdagangan sebesar 80 persen.

1. Jawaban Teoritis

Tiba-tiba Prabowo Subianto melontarkan pernyataan 'menyerang' saat Joko Widodo menjawab pertanyaannya secara normatif. Prabowo tak setuju dengan jawaban yang dinilainya terlalu teoritis tersebut.

"Jadi kadang-kadang kita gampang dengan slogan dengan jawaban-jawaban teoritis. Tapi masalahnya bapak sendiri mengatakan kita tinggal setahun. Jadi tidak semudah itu bapak katakan kita hadapi serangan, satu tahun kita buat industri yang bisa menahan," kata Prabowo dalam debat capres Minggu (22/6) kemarin.

Respon ini disampaikan Prabowo ketika Jokowi menjawab pertanyaan mengenai upaya peningkatan daya saing nasional terkait ASEAN Community 2015. Bagi Prabowo, peningkatan daya saing itu harus realistis seperti menutup kebocoran.

"Mari kita realistis benahi diri, kita hemat anggaran, hemat APBD, hemat APBN. Tutup kebocoran, tutup kebocoran, tutup kebocoran, itu baru kita punya uang. Kita punya investasi baru kita kompetitif hadapi serangan dari luar," ujar Prabowo.

Jawaban Jokowi adalah penekanan diplomasi melalui fungsi duta besar. Jokowi ingin diplomasi duta besar dititikberatkan pada perdagangan sebesar 80 persen.

2. Jual Indosat

Prabowo Subianto menanyakan pendapat saingannya Joko Widodo mengenai penjualan aset Indosat yang dilakukan pemerintah di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Jawaban Jokowi pun tak disepakati Prabowo.

"Tadi sudah jelas sekali saat itu krisis dan terimbas krisis kemudian kita membutuhkan anggaran untuk menggerakan ekonomi dan yang kita punyai dan kita bisa jual barang itu. Tentu itu kita lakukan dengan catatan itu masih kita bisa beli," kata Jokowi dalam debat capres Minggu (22/6) kemarin.

Jokowi juga menegaskan pemerintah kala itu terpaksa menjual Indosat untuk menyelamatkan kondisi negara dari krisis ekonomi. Ia kemudian menyatakan lebih baik melihat ke depan, seperti kemungkinan membeli kembali Indosat.

"Tidak usah melihat ke belakang, saya melihat ke depan. Ke depan kita ingin ambil lagi," sambung Jokowi.

2. Jual Indosat

Prabowo Subianto menanyakan pendapat saingannya Joko Widodo mengenai penjualan aset Indosat yang dilakukan pemerintah di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Jawaban Jokowi pun tak disepakati Prabowo.

"Tadi sudah jelas sekali saat itu krisis dan terimbas krisis kemudian kita membutuhkan anggaran untuk menggerakan ekonomi dan yang kita punyai dan kita bisa jual barang itu. Tentu itu kita lakukan dengan catatan itu masih kita bisa beli," kata Jokowi dalam debat capres Minggu (22/6) kemarin.

Jokowi juga menegaskan pemerintah kala itu terpaksa menjual Indosat untuk menyelamatkan kondisi negara dari krisis ekonomi. Ia kemudian menyatakan lebih baik melihat ke depan, seperti kemungkinan membeli kembali Indosat.

"Tidak usah melihat ke belakang, saya melihat ke depan. Ke depan kita ingin ambil lagi," sambung Jokowi.

3. Tank Leopard

Tema debat capres ketiga ini menghantarkan kedua kandidat presiden membahas kekuatan alutsista TNI. Jokowi meminta pandangan Prabowo mengenai pengadaan tank seberat 60 ton di Indonesia, tank Leopard.

Prabowo menyatakan Indonesia membutuhkan tank jenis Main Battle Tank itu untuk turut serta menjaga perdamaian dunia. Ia juga menyatakan tank Leopard bisa dioperasikan di Indonesia.

Jokowi tidak sepakat, menurut capres nomor urut dua itu tank Leopard terlalu berat dan jika dioperasikan akan berdampak pada kerusakan infrastruktur.

"Tank itu terlalu berat Pak Prabowo. Jalan kita rusak semua, jembatan kita tidak kuat menahan tank 62 ton. Oleh karena itu, sebaiknya, sebelum kita membeli alutsista, harus kita cek kita cocok tidak dengan barang itu," kata Jokowi.

"Saudara Joko Widodo, saya kira pandangan atau pendapat tentang alutsista yang cocok dan tidak cocok kita percayakan pada para pakar, yang sudah melakukan riset dalam sejarah perang," kata Prabowo menanggapi pernyataan Jokowi itu.

3. Tank Leopard

Tema debat capres ketiga ini menghantarkan kedua kandidat presiden membahas kekuatan alutsista TNI. Jokowi meminta pandangan Prabowo mengenai pengadaan tank seberat 60 ton di Indonesia, tank Leopard.

Prabowo menyatakan Indonesia membutuhkan tank jenis Main Battle Tank itu untuk turut serta menjaga perdamaian dunia. Ia juga menyatakan tank Leopard bisa dioperasikan di Indonesia.

Jokowi tidak sepakat, menurut capres nomor urut dua itu tank Leopard terlalu berat dan jika dioperasikan akan berdampak pada kerusakan infrastruktur.

"Tank itu terlalu berat Pak Prabowo. Jalan kita rusak semua, jembatan kita tidak kuat menahan tank 62 ton. Oleh karena itu, sebaiknya, sebelum kita membeli alutsista, harus kita cek kita cocok tidak dengan barang itu," kata Jokowi.

"Saudara Joko Widodo, saya kira pandangan atau pendapat tentang alutsista yang cocok dan tidak cocok kita percayakan pada para pakar, yang sudah melakukan riset dalam sejarah perang," kata Prabowo menanggapi pernyataan Jokowi itu.
Halaman 2 dari 8
(vid/idh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads