"Masih, masih, Insya Allah kita akan menang," kata Anis Matta usai kampanye akbar Prabowo-Hatta di Gelora Bung Karno, Senayan, Minggu (22/6/2014).
Menurutnya, banyak survei yang digelar menjelang Pilpres 2014. Anis juga mengkhawatirkan survei ini dipakai sebagai alat parpol.
"Saya kira hampir ada disparitas di semua lembaga survei ya. Tapi di pengalaman kita di Pileg kemarin hampir semua perkiraan lembaga survei salah. Saya yakin hal yang sama juga berlaku di Pilpres ini. Kita khawatir banyak sekali survei yang dipakai sebagai alat partai, dan sebagai alat baca politik," imbuhnya.
Anis lantas memaparkan sedikit strategi di mana kader-kader PKS akan berjuang. PKS juga akan mengoptimalkan saksi untuk memantau hasil Pilpres 2014.
"Kita punya dua tanggung jawab ya. Yang pertama tanggung jawab di daerah seperti di Jabar, Sumur, Sumbar dan Maluku Utara. Kedua, untuk saksi, kita akan berperan besar, walau teman-teman dari partai yang lain juga berperan, tapi kita yang akan berperan besar," jelas dia.
Anis juga menanggapi PD yang condong ke Prabowo-Hatta. Koalisi ini seperti formasi koalisi di Setkab lalu, hanya saja minus PKB.
"Koalisi ini adalah koalisi lama plus minus. Plus Gerindra minus PKB. Ini (gabungnya Demokrat) menurut saya koalisi kanan-tengah yang sudah berlangsung selama 10 tahun, Insya Allah koalisi ini akan memenangkan pilpres," harapnya.
Hasil survei Badan Litbang Kompas mencatat pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memiliki tingkat keterpilihan sebesar 42,3 persen. Sementara duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat elektabilitas sebesar 35,3 persen.
Survei Kompas dilakukan dengan mewawancarai 1.950 responden selama kurun waktu 1-15 Juni 2014 di 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sementara sampling error diperkirakan sebesar 2,2 persen. Namun 'nonsampling error' dimungkinkan terjadi.
(nwk/trq)











































