Salah satu keluarga korban, Endang, menceritakan Arfiand mendapatkan pertolongan saat hari ketiga pendidikan pecinta alam internal SMA 3. Saat itu, kata Endang, salah seorang siswa mengeluhkan sakit dan menelepon orangtuanya.
"Orantua tersebut akhirnya menjemput anaknya. Saat di lokasi mereka melihat Arfiand yang juga dalam kondisi sakit, akhirnya mereka berinisiatif membawa Arfiand supaya mendapatkan perawatan," tutur Endang kepada detikcom, Sabtu (21/6/2014).
"Jadi, bukan panitia menelepon keluarga Arfiand," imbuhnya.
Keluarga juga mempertanyakan sikap kepala sekolah yang dinilainya tidak awas dengan kegiatan yang dilakukan anak didik di sekolahnya. "Kok dia enggak tanya detail soal kegiatan seperti apa. Jawabnya karena itu kegiatan setiap tahun dan tidak pernah ada masalah," kata Endang menirukan ucapan sang kepala sekolah tersebut.
Endang juga menyayangkan keterlibatan alumni di kegiatan itu. Padahal kegiatan tersebut sedianya hanya melibatkan internal sekolah seperti siswa dan guru yang berperan sebagai pengawas kegiatan.
"Kenapa kepsek tanda tangan izin kalau tidak tahu detail acara seperti apa, kenapa juga alumni bisa ikut dalam acara tersebut?" Endang mempertanyakan.
Arfiand meninggal pada Jumat (20/6) pukul 11.00 WIB di ruang ICU. Dia dijemput keluarga pada dini hari dari kawasan Tangkuban Perahu.
"Yang pasti terlihat itu lebam, mulai dari pipi sebelah kiri, bibir kanan bawah, dada sampai seputaran kaki lecet. Dari hasil otopsi sementara, telah terjadi kekerasan yang diakibatkan benda tumpul. Ini datanya terjadi 3-4 hari ke belakang," jelas Kasat Reskrim Polres Jaksel Kompol Indra Fadilah Siregar.
Korban mengikuti acara pecinta alam selama 8 hari sejak 12 Juni. peserta siswa kelas 1 sebanyak 10 orang dan seniornya siswa kelas 2 sebanyak 17 orang. Ada juga guru dan senior yang ikut. Polres Jakarta Selatan yang memegang kasus ini sudah memeriksa banyak saksi.
"Sudah ada 4 saksi yang kita periksa, guru dan siswa kelas 2," tutup Indra.
(ahy/edo)











































