Informasi ini disampaikan oleh salah seorang siswa SMA 3 yang menolak disebut namanya, Sabtu (21/6/2014). Siswa ini menjelaskan, salah satu rekannya yang ikut kegiatan itu, masih dirawat di sebuah rumah sakit. Kondisinya cuma cukup mengkhawatirkan.
Dia menjelaskan, ada salah seorang rekan Arfiand yang datang ke rumah duka melayat dengan menggunakan kursi roda. Kuku anak itu bahkan pecah-pecah.
Siswa ini juga menjelaskan Arfiand adalah sosok bocah yang pintar dan ramah. Beberapa sahabatnya seringkali minta diajarkan oleh Arfiand.
Meski sempat menjalani perawatan di RS MMC, nyawa Arfiand tidak bisa ditolong. Kesimpulan awal, dia mengalami pendarahan di paru dan luka di usus.
Arfiand meninggal pada Jumat (20/6) pukul 11.00 WIB di ruang ICU. Dia dijemput keluarga pada dini hari dari kawasan Tangkuban Perahu.
"Yang pasti terlihat itu lebam, mulai dari pipi sebelah kiri, bibir kanan bawah, dada sampai seputaran kaki lecet. Dari hasil otopsi sementara, telah terjadi kekerasan yang diakibatkan benda tumpul. Ini datanya terjadi 3-4 hari ke belakang," jelas Kasat Reskrim Polres Jaksel Kompol Indra Fadilah Siregar.
Korban mengikuti acara pecinta alam selama 8 hari sejak 12 Juni. peserta siswa kelas 1 sebanyak 10 orang dan seniornya siswa kelas 2 sebanyak 17 orang. Ada juga guru dan senior yang ikut. Polres Jakarta Selatan yang memegang kasus ini sudah memeriksa banyak saksi.
"Sudah ada 4 saksi yang kita periksa, guru dan siswa kelas 2," tutup Indra.
(mok/ndr)











































