Pantauan, meski cuaca sedang turun hujan cukup deras, sejumlah kerabat terus berdatangan ke rumah Arfiand di Jl Poncol Jaya RT 01/05, No. 2, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Sabtu (21/6/2014).
Ada tiga karangan bunga dukacita yang ada di rumah ini. Yang pertama dari 'Anak-anak dan Ortu kelas X IPA.A'. Dan satu lagi dari Ikatan Alumni SABHAWANA, komunitas pecinta alam sekolah itu.
Kedua orangtua Arfiand, menolak untuk berbicara banyak mengenai kematian anak sulungnya itu. Mereka malah meminta agar polisi bisa mengungkapkan kasus ini.
"Kalau kami masih menunggu visum dari RSCM. Cerita tanya ke Kapolres Jaksel," ujar ibu Arfiand saat ditemui di garasi.
Dari wajahnya terlihat jelas kesedihan yang mendalam. Mata sang ibu yang mengenakan jilbab tersebut bengkak.
Meski sempat menjalani perawatan di RS MMC, nyawa Arfiand tak tertolong. Dia mengalami pendarahan di paru dan luka di usus.
Arfiand meninggal pada Jumat (20/6) pukul 11.00 WIB di ruang ICU. Dia dijemput keluarga pada dini hari dari kawasan Tangkuban Perahu.
Korban mengikuti acara pecinta alam selama 8 hari sejak 12 Juni. peserta siswa kelas 1 sebanyak 10 orang dan seniornya siswa kelas 2 sebanyak 17 orang. Ada juga guru dan senior yang ikut.
(mok/ndr)











































