"Menurut saya tidak ada pengaruhnya. Jadi kalau tentara yang aktif boleh milih, mungkin ada pengaruhnya. Jangan lupakan, masyarakat cerdas," ungkap peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego.
"Dunia militer Indonesia saat ini tidak lagi sama dengan dwi fungsi ABRI pada rezim Orde Baru," lanjut Indria dalam sebuah diskusi di DPD RI, Senayan, Jakarta, Jumat (20/06).
Indria mengatakan TNI sekarang hanya satu fungsi, tidak lagi menjadi dwi fungsi. "Memang, semua perwira di masa lalu itu berpolitik, melaksanakan tugas sesuai jenjangnya dan perintah dari Presiden Soeharto," jelasnya.
"Muncullah tentara-tentara yang mengintepretasikan persoalan politik. Tentara menjadi kontrol sosial, " tambah Indria.
Hal ini juga ditegaskan sebelumnya oleh pengamat politik militer Salim Said di acara yang sama. Salim mengatakan keadaan sudah berubah sejak generasi baru.
"Kenapa generasi '45 punya pengikut? Sebab tentara '45 mencari anak buah, cari makan untuk anak buah, dan kasih bedil sehingga anak buah loyal. Generasi setelahnya tidak," tegas Salim yang juga Direktur Eksekutif Institut Peradaban.
Dalam ajang pemilihan presiden kali ini, kandidat nomor urut satu Prabowo-Hatta mendapat sokongan suara dari jajaran mantan jenderal seperti Glenny Kairupan, Moekhlas Sidik, Suryo Prabowo, Kivlan Zen, dan Chairawan Nusyirwan.
Adapun kandidat nomor urut dua Jokowi-JK mendapat dukungan dari sederet purnawiran TNI seperti AM Hendopriyono, Agum Gumelar, Luhut Panjaitan, Subagyo HS, Ryamizard Ryacudu, dan Wiranto.
(brn/brn)











































