Perinciannya, sebesar Rp 712.7 miliar untuk membeli 6,13% saham perusahaan berkode BHIT di Bursa Efek Indonesia, Rp 112 miliar dibelikan 1,38% saham perusahaan berkode KPIG, Rp 33,4 miliar untuk membayar 0,11% saham BMTR, dan sebesar Rp 11,8 miliar untuk membeli 0,03% saham MNCN. Data itu tercatat dalam data perdagangan yang tercatat di layar Bloomberg dan dikutip oleh portal investasi Bareksa.com.
Menurut Bareksa.com, pembelian saham MNC Group oleh investor bernama 'Tanoesudibjo Prabowo-Hatta' itu menjadi perbincangan di kalangan pelaku pasar modal.
Ketua Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan Muhammad Yusuf mengaku belum mengetahui adanya transaksi pembelian saham tersebut. "Kami belum menerima laporannya," kata Yusuf kepada detikcom, Jumat (20/6/2014). Laporan tersebut menurut Yusuf akan disampaikan oleh sebuah Manajer Investasi kepada PPATK jika ditemukan penyimpangan.
Sementara jika itu terkait dengan dugaan pelangaran pemilihan presiden dan wakil presiden, Badan Pengawas Pemilihan Umum yang berwenang mengusutnya.
PDI Perjuangan Pro Jokowi (Projo) mendesak pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menjelaskan asal muasal dana yang digunakan untuk membeli saham tersebut. "Sebab integritas calon pemimpin bangsa sangat penting. Kami memerlukan pemimpin yang jujur," kata Koordinator Nasional Projo, Budi Arie Setiadi.
Menurut Budi, transparansi asal dana tersebut penting karena selama ini pasar modal Indonesia sering digunakan untuk praktik money laundering. "Karena itu Prabowo-Hatta harus menjelaskan sumber dana untuk transaksi itu dan apa keperluannya," kata Budi.
(erd/van)










































