Salah satu contoh nyata ada dalam pelaksanaan 'Indonesian Week 2014' yang melibatkan banyak mahasiswa asing dalam setiap acaranya, termasuk saat parade pembukaan yang melibatkan banyak mahasiswa asing dalam membentuk konfigurasi huruf I N A di halaman kampus APU pada 16 Juni lalu.
"Seperti (Indonesia) week ini, sering dimintai bantuan negara lain. Untuk parade (pada pembukaan Indonesia Week), Vietnam sempat bertanya kok bisa (menarik mahasiswa asing)," sebut Vice Dean of Admissions pada APU, Dahlan Nariman saat berbincang di kampus APU di Beppu, Jepang, Kamis (19/6/2014).
Tidak segan, mahasiswa asing lainnya di APU meminta bantuan mahasiswa Indonesia untuk membantu acara pekan multibudaya negara mereka masing-masing. Selain Indonesian Week, ada juga Vietnamese Week, Thai Week, Korean Week, Chinese Week, Japanese Week, Sri Lankan Week, dan sebagainya di APU.
"Indonesia adalah motor dalam ide, planning, atau program, atau hal-hal baru yang membutuhkan inisiatif, kreativitas. Format Indonesia Week ditiru oleh (mahasiswa) negara lain. (Mahasiswa) Indonesia terus berkembang," terang Dahlan.
Dari total 2.499 mahasiswa asing yang kuliah di APU, termasuk yang mengambil program Master, terdapat 217 mahasiswa asal Indonesia. Jumlah yang cukup banyak tentunya untuk kategori mahasiswa asing di sebuah universitas yang ada di Jepang.
"Dalam 10 tahun terakhir ini, semuanya inisiasi selalu anak Indonesia yang terdepan," terang Dahlan yang juga merupakan Associate Professor, Education Development and Learning Support Center (EDLSC pada APU.
"Membuat anak Indonesia (di APU) semakin percaya diri. Ada sesuatu yang baik. Percaya diri sebagai orang Indonesia. Merasa diperlukan oleh negara lain," imbuhnya.
Dari segi akademis, APU memberlakukan sistem pengurangan biaya studi bagi mahasiswanya dengan besaran 30-100 persen, yang didasarkan pada penilaian tersendiri yang dilakukan APU. Dengan ketentuan tersebut, mahasiswa Indonesia paling banyak mendapat pengurangan 65-80 persen yang cukup membanggakan.
"Mahasiswa Indonesia dalam 5 tahun akademik lebih bagus, non-akademik lebih aktif," jelas Dahlan.
Hal senada juga disampaikan oleh Career Office pada APU yang bertugas membantu dan membimbing mahasiswa menentukan langkah karier mereka sebelum lulus kuliah. Menurut mereka, mahasiswa Indonesia seringkali dicari oleh perusahaan dan pencari kerja di Jepang.
"Mahasiswa Indonesia sangat dicari oleh perusahaan-perusahaan karena kreativitas mereka, kemampuan bahasa dan semangat mereka," jelas Masako Posselius dari Career Office APU dan juga Global Career Development Facilitator (Japan), CCE, Inc saat ditemui di kampus APU.
(nvc/rni)










































