"Serangan begitu deras, semuanya hanya menjadi cermin kepanikan pihak lawan. Jokowi-JK menganggap serangan itu hanyalah perang psikologis untuk memecah konsentrasi pemenangan. Namun kami tidak terpengaruh. Jokowi semakin fokus dan menaruh perhatian pada penggalangan suara rakyat," kata Juru Bicara Tim Pemenangan Jokowi-JK, Hasto Kristiyanto, dalam siaran pers, Kamis (19/6/2014).
Menurut Hasto, berbagai serangan justru menempa Jokowi menjadi pemimpin yang tangguh, dan berkarakter. Saat tim lawan menebar serangan, seperti Waketum Gerindra Fadli Zon menyebar tudingan lewat twitter, Jokowi dan JK mencoba membuat terobosan kampanye.
Hasto mengungkapkan sejumlah terobosan kampanye yang dibuat Jokowi-JK. Seperti pemaknaan angka dua bagai simbol keseimbangan, gerakan sejuta relawan, pergerakan grass root, rekening gotong royong, salam dua jari dan calling centre yang memungkinkan Jokowi-JK mengucapkan terima kasih secara langsung kepada rakyat yang telah bergotong royong untuk Jokowi-JK.
"Kami mengkritisi persepsi tegas yang dibangun untuk Prabowo. Ketegasan yang dipersepsikan kuat, justru menjadi tidak berdaya ketika harus tunduk dalam politik bagi-bagi jabatan menteri hingga menteri utama. Janji-janji jabatan strategis adalah bentuk ketaklukan pada kekuatan di luar dirinya. Berbeda dengan Jokowi yang menegaskan hanya tunduk pada konstitusi dan kehendak rakyat Indonesia," sindir Hasto.
Ketimbang menebar black campaign, menurut Hasto, lebih baik mengadu perbedaan karakter dan gaya kepemimpinan, perbedaan visi misi dan agenda strategis, rekam jejak sebagai pemimpin. Untuk itu, Hasto meminta sebaiknya serangan hitam ke Jokowi dihentikan.
"Mereka yang terus merancang serangan negatif seperti Tabloid Obor Rakyat dan transkrip palsu, sebaiknya gunakanlah energi untuk hal-hal yang positif bagi rakyat. Jadikanlah pemilu ini sebagai kegembiraan politik, suatu pesan Pak Jokowi yang terus menerus bergaung dalam nurani rakyat yang bening," pungkasnya.
Sejumlah isu miring belakangan menghampiri kubu Jokowi-JK. Seperti isu SARA yang menyudutkan melalui Tabloid Obor Rakyat di pondok-pondok pesantren, yang seluruh isinya berisi fitnah terhadap Jokowi. Kemudian serangan politik yang terus dikembangkan di masyarakat untuk mengaitkan Jokowi dalam kasus Transjakarta.
Yang terbaru, beredarnya fotokopi yang seolah transkrip percakapan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Jaksa Agung Basrief Arief yang isinya seolah-olah meminta agar Jokowi tidak dikaitkan dalam kasus Transjakarta. Kejaksaan Agung sudah membantah adanya percakapan antara Basrief dengan Megawati. Demikian juga pimpinan KPK yang telah membantah mengenai hal itu.
(van/try)











































