Demikian Wakil Tetap RI untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, Duta Besar Triyono Wibowo dalam kapasitasnya sebagai Presiden Trade and Development Board UNCTAD saat memimpin pertemuan the 28th Special Session Trade and Development Board di Markas PBB Jenewa, Selasa (17 Juni 2014).
Sehari sebelumnya tepat 16 Juni 2014 United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) genap berusia 50 tahun dan Dubes Triyono memimpin Perayaan Ulang Tahun Emas lembaga PBB ini.
"Mandat dan tujuan UNCTAD belum selesai, mengingat cita-cita UNCTAD adalah agar seluruh negara di dunia dapat menikmati manfaat dan keuntungan perdagangan internasional bagi pembangunan ekonomi dan kemajuan sosial, tanpa memandang ukuran wilayah, kekayaan, sistem ekonomi dan sosial," ujar Dubes Triyono merujuk konferensi UNCTAD I tahun 1964.
Menurut Dubes, UNCTAD hingga saat ini memang telah berjasa besar terutama bagi negara-negara berkembang, meskipun situasi dunia telah banyak berubah dalam kurun waktu 50 tahun sejak pendirian UNCTAD.
"Namun demikian, berbagai perubahan dan tantangan tersebut perlu disikapi oleh UNCTAD dengan meningkatkan perannya sebagai penetas gagasan," tandas Dubes.
Untuk itu Dubes mengajak agar semangat UNCTAD I 1964 harus tetap dipertahankan dan terus diperjuangkan terutama dalam menghadapi sejumlah agenda penting internasional ke depan seperti Post-2015 Development Agenda, the 3rd International Conference on Financing for Development dan UNCTAD XIV.
Pada kesempatan tersebut, Sekjen PBB Ban Ki Moon dalam pidatonya menyampaikan bahwa meskipun dunia telah banyak mengalami perubahan dalam 50 tahun terakhir, namun UNCTAD terus dituntut untuk melanjutkan peran pentingnya, terlebih dengan semakin meningkatnya interdependensi antara berbagai sektor ekonomi di era global ini.
"Dalam kaitan tersebut, tujuan pendirian UNCTAD yang ingin mewujudkan dignity for all (martabat untuk semua) hanya dapat dicapai melalui penguatan institusi PBB, khususnya pada momentum strategis menjelang negosiasi agenda pembangunan global pasca-2015," tegas Ban Ki Moon.
Penguatan institusi PBB tersebut, lanjut Ban Ki Moon, pada gilirannya hanya dapat dicapai melalui penguatan pilar-pilar PBB, termasuk di dalamnya penguatan institusi UNCTAD itu sendiri. Hal senada juga disampaikan Sekjen UNCTAD Mukhisa Kituyi yang menyatakan HUT ke-50 memberikan kesempatan UNCTAD untuk berperan dalam proses penyusunan agenda pembangunan pasca 2015.
Indonesia dalam pernyataan nasionalnya yang disampaikan oleh Deputi Watapri I Jenewa, Duta Besar Edi Yusup menyampaikan bahwa eksistensi UNCTAD dewasa ini tetap relevan sebagaimana 50 tahun lalu pada saat konferensi UNCTAD pertama diselenggarakan di Jenewa pada 16 Juni 1964.
"Dewasa ini UNCTAD memiliki peran semakin strategis sebagai komponen utama dalam sistem PBB yang bertujuan untuk mendorong tercapainya pemerataan dan perlakuan adil dan setara dalam sistem perdagangan multilateral, sebagai prasyarat kunci bagi integrasi negara-negara berkembang ke dalam perekonomian global," pungkas Dubes.
Selain Sekjen PBB Ban Ki Moon, Sekjen UNCTAD Mukhisa Kituyi, dan para pimpinan organisasi internasional, seremoni perayaan HUT ke-50 UNCTAD juga dihadiri oleh pejabat tinggi perwakilan seluruh negara anggota PBB.
Sejumlah individu pelaku sejarah yang pernah terlibat dalam pertemuan UNCTAD I tahun 1964 di Jenewa juga turut diundang untuk memberikan testimoni mereka.
Peran Indonesia dalam Perayaan 50 tahun UNCTAD ini sangat besar karena selain memimpin persiapan dan pelaksanaan perayaan ulang tahun, Indonesia juga memberikan kontribusi lainnya yakni pagelaran musik tradisional angklung Le Sangkuriang pada luncheon reception 17 Juni 2014, pertunjukan seni tari serta penyajian makanan tradisional Indonesia.
"Hal itu tidak lain untuk semakin memperkenalkan budaya tradisional dan meningkatkan citra Indonesia di mata dunia internasional," imbuh Dubes Triyono.
Dubes Triyono terpilih menjadi Presiden TDB UNCTAD pada sesi ke-60 persidangan lembaga tersebut pada 16-27 September 2013 dan masa kepresidenannya akan berlangsung sampai September 2014.
Masa kepresidenan Dubes Triyono 2013-2014 memiliki arti strategis dan bersejarah, mengingat selain tugas rutin memimpin TDB, juga bertepatan dengan perayaan ke-50 atau Hari Ulang Tahun Emas UNCTAD.
Sejumlah kegiatan digelar pada 16-20 Juni 2014 antara lain peluncuran Buku 50 tahun UNCTAD, Raul Prebisch Lecture, Dialog Agenda Pembangunan Pasca 2015, Simposium Publik yang mengundang organisasi non-pemerintah, pagelaran seni tradisional, konser musik dan festival film.
Selain itu, pada masa Kepresidenan Dubes Triyono ini juga dilakukan proses mid-term review hasil-hasil Konferensi UNCTAD XIII di Doha tahun 2012, untuk dijadikan rujukan persiapan Konferensi UNCTAD XIV di Peru, tahun 2016.
(es/es)











































