"Tidak ada perintah dari Pak Prabowo kepada anak buahnya, saya yakin. Anak buahnya tak ada yang menyatakan mendapat perintah dari Pak Prabowo. Kalau ada perintahnya, mana buktinya?" kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo saat dihubungi, Kamis (19/6/2014).
Prabowo bersedia menerima pemberhentian dari jabatan Pangkostrad, yang menurut Edhy berstatus secara terhormat, karena Prabowo merasa bertanggung jawab terhadap bawahannya. Padahal sebenarnya, Prabowo sama sekali tidak terlibat aksi penculikan belasan tahun lalu itu.
"Waktu itu semua menyalahkan anak buah. Komandan tentara juga takut semua, semua mengamankan diri. Kecuali Pak Prabowo. Pak Prabowo satu-satunya yang berani bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya," tutur Edhy.
Edhy yang juga Direktur Operasi Tim Pemenangan Prabowo-Hatta ini menyatakan aksi penculikan waktu itu merupakan operasi intelijen. Latar belakangnya, situasi saat itu sangat genting. Namun demikian, Edhy tak tahu menahu siapa inisiator operasi intelijen itu.
"Itu kan operasi intelijen. Waktu itu keadaan genting, maka boleh melakukan sesuatu mengambil tindakan. Pak Wiranto sendiri juga menyatakan agar jangan menyamakan situasi sekarang dengan yang dulu," tutur Edhy.
(dnu/mpr)











































