3 Tahanan Lapas Cirebon Kabur, 13 Sipir Diperiksa Polisi
Kamis, 23 Des 2004 15:31 WIB
Bandung - Buntut kaburnya 3 orang narapidana kelas kakap dari lembaga pemasyarakatan (lapas) Kesambi, Cirebon, Jawa Barat, Rabu dinihari (22/12/2004), 13 orang sipir diperiksa aparat kepolisian Cirebon. Mereka diduga menjadi penyebab kaburnya 3 napi tersebut, karena kelalaian saat menjalankan tugas."Mereka kabur akibat kelalaian petugas yang menjaga di blok D. Keamanan kurang kontrol, teledor," kata Koordinator Urusan Pemasyarakatan, Kanwil Kehakiman dan HAM Jawa Barat, Gusti Tamardjaja kepada detikcomdi Jalan Jakarta, nomor 27 Bandung, Jawa Barat, Kamis (23/12/2004).Hasil penyelidikan awal, diduga 3 orang petugas lapas ini ketiduran, sehingga tahanan yang masuk di LP khusus ini berhasil lolos. "Padahal mereka adalah tahanan khusus, satu sel dihuni satu orang. Seharusnya sulit untuk lolos," ujarnya.Sebagai tindak lanjut, kata Gusti, kasus ini sekarang ditangani pihak kepolisian setempat. Sebanyak 13 orang petugas lapas telah diperiksa, namun belum ada keterangan hasilnya.Ketiga narapidana yang melarikan diri tersebut adalah Antono Dwi Handaryoto (39), terpidana 20 tahun penjara. Dia merupakan narapidana pindahan dari LP Bogor dan dipindahkan ke LP Cirebon pada Oktober 2003, setelah menjalankan hukuman sejak September 2001. Antono merupakan mantan anggota marinir dengan pangkat terakhir kapten. Napi kedua adalah Edi Hardi bin Rustam (33). Pria asal Aceh Selatan tersebut dipidana penjara selama 18 tahun, akibat pembunuhan berencana yang dilakukannya di Kampar, Riau. Dia merupakan narapidana yang dipindahkan dari LP Pekanbaru, dan mulai menempati LP Cirebon Maret 2002, setelah mendekam di LP Pekanbaru mulai Maret 2001.Narapidana ketiga adalah Ramli alias Dadang Herman alias Joni (43), asal Aceh Utara, yang mulai dipenjara Agustus 2002 setelah ditangkap di wilayah hukum Bekasi. Dia dipidana selama 12 tahun penjara akibat memiliki senjata api ilegal. Mereka kabur setelah sebelumnya memotong jeruji teralis jendela ventilasi udara dengan gergaji. Kemudian mereka melompati dua pagar tembok penjara dengan bantuan tiga sarung yang mereka buat menjadi tali panjang. Para narapidana yang melarikan diri tersebut menempati ruang tahanan Blok D, Ruang 29, 33, dan 44. Ketiganya diduga kuat telah merencanakan pelarian sejak lama, sebab pekerjaan memotong teralis besi tanpa ketahuan membutuhkan waktu lama. Hasil pemotongan pun sangat rapi.Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Edi Darnadi saat ditemui wartawan di Bandung menyatakan bahwa aparat kepolisian sampai sekarang masih melakukan pengejaran dan belum menemukannya. "Kita masih kejar terus mereka," ujar Kapolda.
(jon/)











































