"Itu bentuk kebodohan Wimar. Karena foto Ustad Abu (Bakar Baasyir-red), Imam besar FPI dukung Prabowo itu ngarang karena kebodohan dan kejahilan. Lah Ustad Baasyir itu kan antidemokrasi. Jadi nggak mungkin dukung copras capres," kata Jubir FPI Munarman saat dihubungi, Kamis (19/6/2014).
Munarman mengecam Wimar atas pengunggahan gambar tersebut. Terlebih Wimar menambahkan kalimat 'Gallery of Rogues.. Kebangkitan Bad Guys'.
"Penggunaan kata 'rogues' di foto itu yang artinya bajingan menunjukkan Wimar sendiri yang bajingan. Karena dalam kasus Century, dia bela habis-habisan para koruptor itu, kan bajingan itu," ujar Munarman.
Munarman menyarankan Wimar bertaubat. Dia mengingatkan agar tak terlalu fanatik pada pilihan politik hingga mengaitkan pihak lain yang tak terlibat.
"Bertaubatlah sebelum ajal menjemput. Karena nanti yang ditanya waktu mati bukan anda pendukung siapa, tapi akidah anda. Jadi kalau dukung capres jangan membabi buta begitu," ujarnya.
Meski demikian, Munarman menegaskan FPI tak akan menempuh langkah hukum. Dia menyarankan agar Tim Prabowo-Hatta yang menyeret Wimar ke ranah hukum.
"FPI nggak ada urusan dengan copras capres ini, yang dirugikan itu adalah Prabowo-Hatta. Kalau tim advokasi Prabowo-Hatta mau lapor polisi ya silakan, kalau kami diminta jadi saksi ya kami akan bersaksi. Karena itu sudah black campaign, bukan negatif campaign," pungkasnya.
Soal gambar yang diberi judul Gallery of Rogues itu, Wimar melalui akun Twitter dan Facebooknya berulangkali meminta maaf telah ikut menyebarkan foto barisan pendukung Prabowo-Hatta dengan latar belakang sejumlah tersangka teroris, dan Presiden Soeharto.
"Saya minta maaf telah meneruskan gambar yang mengasosiasikan organisasi Anda (Muhammadiyah) dengan Prabowo," tulis Wimar di akun @wimar seperti dikutip detikcom, Kamis (19/6/2014).
(trq/ndr)











































