Bocornya Rekomendasi 'Pemecatan' Prabowo dan Kegelisahan Seorang Jenderal

Bocornya Rekomendasi 'Pemecatan' Prabowo dan Kegelisahan Seorang Jenderal

- detikNews
Kamis, 19 Jun 2014 10:40 WIB
Bocornya Rekomendasi Pemecatan Prabowo dan Kegelisahan Seorang Jenderal
Jakarta - Pada pemilihan presiden dan wakil presiden purnawirawan Tentara Nasional Indonesia terpecah dalam dua kubu. Ada yang berpihak pada pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto, ada pula yang bergabung bersama koalisi pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Tak hanya menjadi pendukung pasif, para pensiunan jenderal itu juga aktif, baik melakukan kampanye ataupun membela 'mati-matian' capres yang dia dukung. Bocornya surat rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira agar Prabowo Subianto diberhentikan dari dinas militer 16 tahun lalu kian memantik perseteruan para pensiunan jenderal tersebut.

Di kubu duet Prabowo-Hatta, sejumlah purnawirawan jenderal sibuk membela Prabowo Subianto yang kerap dituding terlibat kasus pelanggaran hak asasi manusia. Mereka juga menuding purnawirawan TNI di kubu Jokowi-JK sebagai pembocor surat rekomendasi DKP tersebut.

Kamis (19/6/2014) hari ini, Jenderal (Purn) Wiranto yang juga Ketua Umum Partai Hanura pengusung Jokowi-JK berencana membuka 'misteri' pemberhentian Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran.

Kasus bocornya surat Dewan Kehormatan Perwira memantik kegelisahan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal (Purnawirawan) Chappy Hakim. Melalui blog pribadinya www[dot]chappyhakim[dot]com dia menulis sebuah artikel yang berjudul, 'Tangan yang Sudah Mulai Keriput'.

Melalui artikel tersebut Chappy mengungkapkan kesedihan dan kegelisahannya melihat kiprah rekan-rekannya para purnawirawan jenderal di panggung politik.

"Malu sekaligus cemas beserta rasa sedih yang sangat mendalam, melihat, membaca pemberitaan yang demikian vulgar. Para lulusannya kini , terutama para Purnawirawan telah saling melemparkan banyak hal yang sangat amat negatif dan bahkan membuka data-data yang seyogyanya tersimpan rapi didalam “personal-data” masing-masing dan didalam almari instansi yang terhormat itu," kata Chappy dalam artikelnya yang dikutip detikcom, Kamis (19/6/2014).

Bagi dia ketidaksempurnaan seorang tentara termasuk hal-hal yang negatif saat meniti perjalan kariernya tak bisa dipublikasikan secara terbuka.

"Perebutan kekuasaan akhir-akhir ini yang sifatnya sangat duniawi ternyata telah memporakporandakan “keperwiraan” dan sifat “ksatria” mereka semua. Akankah dibuka lebar-lebar , seluruh aib yang ada dalam diri kita semua, para purnawirawan lulusan Akademi Militer yang selama ini begitu terpandang?," tulis Chappy.

Memang dari sekian ribu purnawirawan TNI, hanya ada segelintir yang kini terjun ke dunia politik. Namun yang sedikit itu menurut Chappy justru yang selama ini memiliki nama besar, dan dikenal sebagai tauladan mewakili ribuan purnawirawan TNI yang nyaris sudah tak lagi terdengar suaranya.

"Masih adakah 'kehormatan' itu, yang telah porak poranda hanya dalam hiruk pikuknya pemilihan Presiden Republik Indonesia? Hanya karena ingin jadi Presiden?," kata Chappy.



(erd/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads