Sekolah di Pelosok Kesulitan Beli Buku Kurikulum 2013 via e-Purchasing

Sekolah di Pelosok Kesulitan Beli Buku Kurikulum 2013 via e-Purchasing

- detikNews
Rabu, 18 Jun 2014 19:40 WIB
Sekolah di Pelosok Kesulitan Beli Buku Kurikulum 2013 via e-Purchasing
Gudang penyedia buku Kurikulum 2013 (Foto: Ranny Virginia)
Jakarta - Buku Kurikulum 2013 dibeli langsung oleh pihak sekolah melalui pembelian online (e-purchasing) kepada perusahaan percetakan buku yang ditunjuk menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, pembelian buku online ini susah dilakukan sekolah-sekolah di pelosok karena infrastruktur internet yang masih payah.

"Saya mendapat laporan bahwa ada beberapa sekolah yang harus ke kecamatan atau ke dinas kabupaten terlebih dahulu untuk meminta bantuan pemesanan buku melalui sistem online," kata Sekretaris Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Thamrin Kasman, seusai memberikan sambutan di acara Pengiriman Perdana Buku Kurikulum 2013 di Gudang PT Intermasa, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (18/6/2014).

Selain tidak meratanya infrastruktur internet di pelosok Indonesia yang menjadi kendala utama sistem e-purchasing buku Kurikulum 2013, situs e-purchasing juga sering macet. Hal itu karena situs itu menampung terlalu banyak pemesanan dari sekolah-sekolah di Indonesia.

"Kelihatannya ada sedikit gangguan pada tingkat e-purchasing," imbuhnya.

Menjawab persoalan tersebut, Kemendikbud sebelumnya sudah berkoordinasi dengan dinas pendidikan, sekolah dan pihak penyedia buku untuk memperbolehkan pemesanan melalui sistem offline. Pemesanan tersebut ditujukan langsung ke penyedia oleh sekolah melalui dinas.

"Mereka bekerja siang malam untuk merekapitulasi itu (jumlah pesanan buku) semua. Jumlah sekolah yang masuk setiap hari, sejumlah itu yang mereka cetak," papar dia.

Thamrin berharap dalam beberapa hari ke depan semua sekolah akan menuntaskan pemesanan buku Kurikulum 2013 yang sudah diprogramkan Kemendikbud. Meskipun beberapa dari pihak sekolah mengaku sudah memesan, namun karena gangguan e-purchasing, pihak penyedia tidak bisa melacak jumlah permintaan pesanan secara pasti.

"Kendalanya sekarang dari pihak penyedia yang tidak bisa membaca lampiran pemesanan dari sekolah. Kalau tidak ada lampiran dari sekolah, penyedia akan kesulitan pengirimannya kemana, dan siapa yang akan bertanggung jawab dalam pembayarannya nanti," jelas Thamrin.

Secara teknis prosedural pemesanan buku Kurikulum 2013 dilakukan oleh pihak sekolah, bukan dinas pendidikan. Hal tersebut dikarenakan pihak sekolah yang tahu persis jumlah siswa, guru, jumlah pemeluk agama dan sebagainya. Sistem pembayarannya pun dilakukan oleh sekolah karena sekolah yang memiliki uang dari dana BOS.

Sejauh ini, menurut keterangan Thamrin, jumlah keseluruhan buku yang sudah dicetak ada sekitar 132 juta eksemplar (untuk SD) dan 68 juta eksemplar (untuk SMP). Buku-buku tersebut sudah termasuk buku untuk siswa, guru, kepala sekolah dan juga perpustakaan.

Sementara untuk tenggat waktu pendistribusian, Kemendikbud sudah menekankan bahwa tanggal 1 Juli 2014 nanti harus sudah selesai semua distribusi buku.

"Ini prosesnya kan bertahap. Karena sesuai dengan peraturan Kemendikbud, tahun ajaran baru dimulai setiap Senin di minggu ketiga Juli, artinya masih ada waktu," tandas dia.


(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads