"Ada ketidakcukupan penjelasan-penjelasan dari maupun dokumen dari para calon ini, termasuk setumpuk pertanyaan yang tadi kita sampaikan," ujar Direktur Eksekutif Walhi, Abetnego Tarigan usai Seminar Nasional Indonesia Butuh Presiden Pro Lingkungan dan HAM di Plaza Bapindo, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (18/6/2014).
Menurut Abetnego, penjelasan-penjelasan yang dimaksud itu seperti bagaimana mekanisme penyelesaian konflik yang terkait lingkungan, kemudian bagaimana kelembagaannya. Selain itu juga mengenai sinkronisasi kebijakan soal lingkungan hidup dan apa yang akan dilakukan.
"Karena memang itu penting bagi kami untuk dilakukan pemerintahan ke depan," tambah Abetnego.
Abetnego pun mengkritisi visi-misi Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Menurutnya visi-misi pasangan yang diusung oleh Partai Gerindra, PAN, PPP, Golkar, PKS, dan PKPI itu belum jelas.
"Pak Prabowo-Hatta itu berbicara soal program lingkungan, krisisnya apa itu lho yang mau dijawab soal ini. Dalam konteks reformasi atau pembaharuan kalau di Prabowo-Hatta itu kami melihat project-project sifatnya," kata Abetnego.
Abetnego mencontohkan salah satu program yang diusung Prabowo-Hatta misalnya pembukaan 77 juta hektar lahan pertanian, kemudian bioethanol, dan efisiensi energi. Sementara itu, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai lebih detil pada visi misi di bidang lingkungan hidup.
"Kalau di pak Jokowi-JK memang melihatnya lebih jauh. Dalam konteks kebijakan kaya apa, dalam konteks kelembagaan kaya apa, dalam konteks program kaya apa. Di dalam kelembagaan misalnya disebutkan penataan terkait soal konflik dan pengelolaan SDA, dan bagaimana soal sinkronisasi kebijakan dan apa yang dilakukan untuk itu," jelas Abetnego.
Abetnego menganggap kurang lengkapnya penjelasan visi-misi Prabowo-Hatta dalam penanganan lingkungan hidup bisa juga disebabkan karena kurangnya kesiapan.
"Saya ga tahu apakah ini karena kesiapannya yang sangat rendah, atau karena waktu mereka pendaftaraan itu sangat mepet ketika pembentukan koalisi dan pendaftaran. Bagi kami memang jadi satu catatan yang penting. Kami lihat dari sisi dokumen itu ngga apple to apple, terlalu jauh," papar Abetnego.
Meski begitu, visi-misi milik Jokowi-JK pun dinilai masih kurang dari cukup terkait masalah lingkungan hidup. Untuk itulah mengapa Walhi dikatakan Abetnogo gencar mengungkap isu-isu ini
WALHI juga mencatat bagaimana kedua pasangan Capres masih membicarakan sumber daya alam sebagai basis tulang punggung ekonomi negara. Hal tersebut pada akhirnya menimbulkan resiko lingkungan yang cukup besar.
"Hanya yang cukup vulgar di MP3EI itu di Prabowo-Hatta. Wajar karena pak Hatta yang ruling itu da program beliau itu MP3EI," tandas Abetnego.
(mpr/mpr)











































