"Kampanye hitam efektif menurunkan elektabilitas Jokowi. Kalau tiga minggu ke depan isu ini digoreng terus, maka elektabilitas semakin turun seperti soal Jokowi Kristen, Jokowi Tionghoa," ujar Dirut Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam Seminar Nasional Yayasan Perspektif Indonesia di Plaza Bapindo, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (18/6/2014).
Burhanuddin menilai dalam kampanye Prabowo-Hatta lebih menitikberatkan pada kata 'order dan security' pada demokrasi. Sementara menurut Jokowi, demokrasi adalah kesejahteraan dan kebebasan.
"Jokowi dengan kekurangan artikulasinya dia clear tentang demokrasi. Jawaban dia lebih membumi. Dia mengatakan demokrasi itu soal mendengar. Itu menampakkan pentingnya partisipasi," kata Burhanuddin.
"Pemimpin itu harus turun, mendengar, menyerap dan menjalankan. Kalau dia bisa lebih bagus mengartikulasikan apa yang ada di kepalanya," tambahnya.
Sayangnya, sebagian masyarakat yang hanya melihat seseorang dari sisi kemasan saja, padahal yang terpenting adalah substansi.
"Gambaran sekarang orang lebih suka dengan gagasan besar yang disampaikan berapi-api walaupun gagasan tersebut tidak jelas landasan empirisnya," ucapnya.
(fiq/trq)











































