Kolom
Pak Guru Google
Kamis, 23 Des 2004 09:40 WIB
Jakarta - Dalam sebuah kesempatan ke Busan, Korea Selatan, ada pemandangan yang cukup menggoda -- meski bagi sebagian orang itu biasa -- yakni di setiap stasiun kereta/terminal terdapat public internet atau internet umum. Apa anehnya? Tidak ada yang aneh. Hanya saja sekitar 20 PC yang ada di 'warnet' stasiun itu nyaris selalu penuh, pengaksesnya beragam, dari mahasiswa, anak-anak, ibu-ibu rumahtangga, pegawai kantor, tentara, polisi, dan satpam!Ada yang main game, mengecek nilai ujian kampus, mendownload ringtone, dan mengecek sekaligus membalas email. Mereka memakai komputer dengan tanpa pengawasan, di tempat sangat terbuka yang berpendingin dan bayarnya pakai koin. Seluruh komputernya, meski tidak gres, tapi rapi dan siap pakai. Tidak rusak.Ketika 'pemandangan' tersebut didiskusikan dengan teman sesama Indonesia, bahwa kita perlu mencontoh Korea dalam hal ini, yaitu memasang PC yang tersambung dengan internet untuk umum di stasiun, terminal, dan tempat publik lainnya, sang teman sontak menolak. "Tidak mungkin. Gile ape loe!" sergah teman ini. Menurutnya, kalau sampai ada pengusaha berani membuka warnet secara terbuka di stasiun/terminal tanpa pengawasan khusus model penjaga warnet, harus siap-siap menghadapi kenyataan PC-nya banyak dirusak, tempat koinnya dibongkar, bahkan mungkin saja dicuri motherboardnya atau CPU-nya sekaligus. Ingat, berapa banyak telepon umum yang rusak karena dicongkel paksa sekadar mencuri duit recehannya di dalam box telpon. Sikap cenderung destruktif seperti itu, dengan mensia-siakan fasilitas publik secara tidak langsung menghalangi pihak lain untuk mendapatkan hak asasinya. Termasuk hak untuk mendapatkan atau memberi informasi. Dimana hal itu, saat ini bisa jadi sudah menjadi kebutuhan dasar. Mungkin karena tingkat kesadaran terhadap kebutuhan informasi sudah demikian tinggi di kalangan masyarakat Korea, maka mereka pun sama-sama memelihara fasilitas publik tersebut. Pemandangan sedap itu tak cuma di Busan, tapi juga di Seoul dan mungkin juga Kwangju atau Taegu yang tidak dikunjungi. Dengan adanya fasilitas internet umum seperti di terminal/stasiun yang banyak pemakainya, maka wajar jika Korea maju pesat di berbagai bidang saat ini. Di dunia internet saat ini, Korea yang penduduknya 49 juta lebih, pengguna internetnya 30,6 juta (penetrasi 62,4%). Penetrasi ini tertinggi kedua di Asia setelah Hongkong (72,5%) dengan total penduduk cuma 6,727 juta jiwa. Ini wajar karena masyarakat Hongkong hampir sebagian besar metropolis perkotaan sedangkan Korea menyebar dan banyak di desa-desa juga.Di mana posisi Indonesia? Menurut data internet usage Asia, penetrasi Indonesia diantara 10 negara Asean saja tahun ini berada di peringkat ke-7. Dengan jumlah penduduk sebesar 221 juta, usernya sekitar 8,08 juta (penetrasi 3,6%). Adapun 6 negara di atas Indonesia yang penetrasi pengguna internetnya tinggi adalah Singapura (61%), Malaysia (34%), Thailand (10,7%), Brunei (9,4%), Vietnam (6,2%), dan Filipina (4,2%). Indonesia hanya mengungguli Laos, Kamboja, dan Myanmar yang masing-masing tidak sampai setengah persen.Jangan terjebak sama statistik, kata orang. Tapi data itu paling tidak bisa menjadi gambaran bahwa dibanding negara-negara tetangga dekat, seperti Singapura, Malaysia, Filipina dan Brunei sekalipun, kita -- suka tidak suka -- tertinggal. Paling tidak hal itu menunjukkan betapa terbatasnya saudara-saudara kita yang melek internet. Bisa jadi ada kebijakan kita yang salah menyangkut internet ini, di mana masih terasa mahal. Kalaupun ada yang dirasa murah, tiba-tiba tagihannya mencekik leher karena kesalahan billing seperti yang terjadi terhadap kasus broadband Speedy. Hal ini bisa mempengaruhi tingkat massivitas pertumbuhan internet karena trauma tagihan salah.Internet memang bukan segala-galanya. Tapi suka tidak suka, ini telah ada dan berdampak luas dalam kehidupan era sekarang. Telah melahirkan digital boy-digital boy yang melek informasi dan menjadi superboy -- dalam hal informasi. Jangan heran bila anak kita ketika ditanya tentang ilmu pengetahuan bilang belum tahu, tapi beberapa saat kemudian bisa memeberikan jawaban yang sangat lengkap melebihi yang kita pikirkan. Ketika ditanya, siapa guru yang mengajarinya? "Pak guru Wikipedia dan Gooogle!"
(diks/)











































