Peran Hatta Rajasa dalam persiapan kampanye Prabowo ikut jadi sorotan. Bagaimanapun, seruan Prabowo tentang banyaknya kebocoran uang negara secara tak langsung 'menyerang' Presiden SBY dan sang mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa.
"Mengeluarkan angka itu menyulitkan Hatta Rajasa dan pemerintahan SBY karena seolah-olah kebocoran pemerintahan sekarang besar sekali," kata pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, kepada wartawan, Rabu (18/6/2014).
Hal ini juga memunculkan tanda tanya seputar peran Hatta dalam penyusunan materi kampanye Prabowo. Karena mestinya bila ada Hatta yang ahli ekonomi, Prabowo tak sampai salah data dalam kampanye.
"Di sisi lain akan timbul dugaan Hatta Rajasa dan timnya kurang dilibatkan dalam proses debat dan proses lainnya. Karena mestinya problem data begini tidak muncul jika Hatta dilibatkan," katanya.
Meski demikian tim Prabowo-Hatta membela capresnya itu. Menurut Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Fadli Zon, Prabowo sudah menyampaikan hal yang benar.
"Ya potensi. Yang kita bicarakan soal potensi, oportunity loss kita dalam mendapatkan budget begitu besar," kata Fadli Zon saat dihubungi, Selasa (17/6/2014).
Fadli menyatakan kebocoran yang dimaksud Prabowo bukan hanya kebocoran dari sisi belanja negara, melainkan dalam artian lebih luas. Potensi kebocoran meliputi kekayaan dari berbagai bidang yang rawan lepas karena berbagai hal.
"Itu bukan kebocoran dari sisi belanja saja, tapi pendapatan dan belanja. Termasuk dana-dana yang dikorupsi, pajak tidak dibayarkan, subsidi yang tidak efisien, dan sebagainya," kata Fadli.
Sebelumnya Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto sudah bertanya pada Ketua KPK Abraham Samad terkait pernyataan Prabowo tersebut. Versi Samad, ucapannya bukan mengarah pada kebocoran uang negara, tapi potential revenue yang bakal diraih bila aset-aset migas di Indonesia diselamatkan.
"Terus terang saya agak kaget mendengar itu dan saya cek, di mana, oh dari satu pertemuan di PDIP yang mengumumkan Pak Ketua (Samad). Saya cek ke Pak Ketua, yang dimaksud Pak Ketua itu potential revenue, kita bisa melipatgandakan penerimaan negara lebih dari Rp 7.000 triliun, bukan kebocoran," kata Bambang saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (17/6)
Abraham sendiri akhirnya buka suara dan menegaskan jika kebocoran seperti yang disebutkan Prabowo berbeda dengan potensi penerimaan yang hilang seperti yang dia maksud.
"Bukan kebocoran tapi potensi penerimaan, yang seharusnya bisa didapat itu jadi tidak didapat, beda dengan kebocoran," kata Samad saat ditanya terkait pernyataan Prabowo soal kebocoran uang negara, di KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (17/6/2014) malam.
Ia membenarkan tentang pernyataan ribuan triliun itu. Angka itu bisa didapat negara jika sistem pengelolaannya sudah diperbaiki.
"Angkanya sudah benar tapi itu potensi penerimaan yang harusnya didapatkan. Jadi potensi penerimaan negara yang harus didapatkan Rp 1000-7000 triliun seandainya sistem pengelolaan sudah diperbaiki," tutur Samad.
(van/kha)











































