"Bisa saja strateginya satu atau dua hari sebelum pilpres tiba-tiba mendeklarasikan dukungan ke Tim Prabowo-Hatta," kata Qodari di acara Konferensi Pers Indo Barometer "Aspirasi Publik Tentang Capres, Cawapres, dan Tiga Skenario 9 Juli 2014" di Rarampa Resto, Blok M, Jakarta, pada Selasa (17/6).
Prediksi tersebut didasari oleh sikap Ketua Umum PD SBY yang dinilainya cenderung lambat dalam mengambil keputusan. Tetapi, Qodari mewanti-wanti agar kubu Prabowo-Hatta tidak lengah karena ada fenomena di mana kader-kader partai tidak mematuhi perjanjian koalisi yang dibuat antar ketum.
"Ini terjadi saat Megawati-Hashim tahun 2004. Koalisi sudah tanda tangan. Namun, pengikut partainya masih banyak memilih SBY-JK," ujarnya.
Qodari juga melihat bahwa solidaritas pengikut partai biasanya akan lebih terasa bila calon yang diusung berasal dari partai yang sama. Mengenai hal ini, Qodari berpendapat masing-masing tim capres-cawapres harus dapat berlapang dada bila nantinya hasil yang diperoleh dari partai koalisi tidak signifikan.
"Misalnya Golkar (dukungannya) belum 50%, tetapi mayoritas ke Prabowo Hatta.
Tidak sampai 80% seperti Gerindra dan PDIP," tambahnya.
Dengan tambahan dukungan dari kader-kader PD, jubir Tim Prabowo-Hatta, Eggi Sudjana optimistis suara yang diperoleh dari koalisi di Pilpres nanti akan signifikan. "Orang pilih Prabowo karena tegas, visi misi bagus, dan berjiwa pemimpin. Jadi itu yang harus dipilih," ucapnya.
Sementara itu, tim Jokowi-JK mengaku tidak khawatir dengan dukungan kader PD ke Prabowo-Hatta. Keberadaan tokoh penting PD seperti Dahlan Iskan dan Anies Baswedan dinilai lebih berefek signifikan.
"Tidak perlu risau. Terlihat saat ini tokoh penting PD mendukung kita, seperti Dahlan Iskan dan Anies Baswedan. Yang penting mayoritas rakyat pilih Jokowi-JK," ujar jubir Tim Pemenangan Jokowi-JK, Ferry M. Baldan.
(imk/try)










































