Isu ini, menurut Boy, membuat sebagian warga Jakarta tak ingin memilih Jokowi. Mereka merasa enggan dipimpin oleh Ahok yang saat ini sudah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI.
Jokowi mengakui isu itu menjadi salah satu senjata lawan untuk membuatnya kalah di Jakarta. Namun, ia membantah bila warga Jakarta menolak Ahok jadi gubernur.
"Ya dua minggu ini dilihat bagaimana perkembangannya. Nggak (benar warga Jakarta tolak Ahok-red). Masyarakat informasinya baik. Jadi bisa memilah," ujar Jokowi di Hotel Batiqa, Karawang, Jawa Barat, Selasa (17/5/2014).
Menurutnya, kampanye hitam dengan beragam isu mempengaruhi elektabilitasnya. Ia menyebut masyarakat kalangan menengah ke bawahlah yang mudah dipengaruhi.
"Kampanye hitam itu menyudutkan. Kampanye hitam itu memang tak berefek menengah atas, karena bisa membedakan tapi yang di bawah kadang-kadang masih belum bisa membedakan," ucapnya.
Jokowi mengakui elektabilitasnya turun di DKI. Boy Sadikin menyebut turunnya elektabilitas Jokowi karena permainan isu Ahok akan jadi Gubernur bila Jokowi menang.
"Ya karena banyaknya isu negatif yang menerpa beliau (Jokowi). Isu-isu negatif salah satunya kalau Jokowi presiden, Gubernurnya Ahok, maka itu ada isu dari pihak lain," kata Boy Sadikin usai rapat internal di Posko Relawan, Jalan Borobudur, Jakarta Selatan, Senin (16/6/2014).
Ia menyatakan sebagian warga Jakarta tak mengharapkan wakil Jokowi di Jakarta, Basuki T Purnama menjadi gubernur menggantikan Jokowi.
"Kalau presidennya Prabowo, Gubernurnya Jokowi. Masyarakat tahu, bahwa masyarakat sebagian besar tidak menginginkan Ahok jadi gubernur," sambung Wakil Ketua DPRD DKI ini.
(bil/trq)











































