"Harganya naik, isinya kurang," kata Tini saat berbincang dengan JK di Jalan Sanan, Malang, Selasa (17/6/2014).
Bukan cuma isi, pemilik toko keripik juga mengeluhkan segel tabung gas. JK menanggapi keluhan warga dengan mencoba mengontak Dirut Pertamina. "Nanti saya telepon Pertamina," sebut JK langsung mengeluarkan telepon genggamnya.
Tapi sayang beberapa kali dikontak dengan menggunakan pengeras suara handphone, sambungan telepon Karen tidak aktif. "Nanti saya telepon," janji JK.
Kepada wartawan, Tini yang memiliki toko keripik di mulut gang Jalan Sanan mengeluhkan isi gas yang tidak sesuai. Biasanya satu tabung 3 kg yang dibeli seharga Rp 14.500 bisa digunakan untuk memasak selama 6 jam.
Rupanya JK masih penasaran dengan keluhan warga soal ketidaksesuaian isi gas. Saat mendatangi Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) 'Bangkit Usaha', JK meminjam alat timbang yang biasa digunakan menghitung berat kedelai untuk memastikan isi tabung gas.
Setelah ditimbang, tabung gas yang total berat isi dan tabung tidak sesuai dari keseluruhan berat yang seharusnya 8 kg.
"Berat 7,8 kg kurang. Jadi ada kurang 2 ons," kata anggota pengurus koperasi Dargo. "Yang masuk sini ditimbang pasti kurang," sambungnya
JK memastikan akan mengecek ke Pertamina mengenai ketidaksesuaian isi tabung gas. "Saya ukur kurang 2 ons-3 ons daripada berat aslinya sehingga harus diperiksa semuanya, karena itu mereka harus sampling begitu masuk timbangan sampling," ujarnya.
(fdn/ndr)











































