"Kalau ada senior-senior yang tak mengikuti sikap resmi Golkar, maka perlu dipertanyakan. Saya jamin itu bukan kepentingan objektif. Nggak tahu apa kepentingannya," tanggap Sekjen Golkar Idrus Marham saat dihubungi, Senin (16/6/2014).
Kepentingan objektif yang dimaksud Idrus yakni kepentingan partai demi kemajuan bangsa. Sedangkan kepentingan tidak objektif yakni kepentingan pribadi.
"Kepentingan objektif itu untuk kepentingan partai dan bangsa, bukan kepentingan pribadi," kata Idrus.
Lebih lanjut, Idrus menyayangkan sikap Ginandjar selaku senior partai pohon beringin. Seharusnya, para senior bisa memberi contoh kepada kader yang lebih muda.
"Senior seharusnya memberi contoh kepada kami-kami ini, bagaimana seharusnya berpartai dan berorganisasi. Seperti Bang Akbar Tandjung (Ketua Wantim Golkar-red), begitu diambil keputusan dia taat, meski tadinya dia usulkan Golkar ke PDIP saja," tutur Idrus.
Sejumlah kader Golkar, senior hingga junior, mengambil sikap mendukung Jokowi. Idrus memandang ini bukan karena kepemimpinan Ketum Golkar Aburizal Bakrie yang kurang efektif mengikat kadernya. Ical, panggilan Aburizal, justru berhasil memberikan iklim demokrasi dalam partai yang berdiri sejak era Orde Baru itu.
"Justru yang dilakukan Pak ARB (Ical) itu adalah menjalankan demokratisasi," kata Idrus.
(dnu/trq)











































