Temui Warga Bugis di Banten, JK: Ini Daerah Potensial yang Perlu Dibantu

Temui Warga Bugis di Banten, JK: Ini Daerah Potensial yang Perlu Dibantu

- detikNews
Senin, 16 Jun 2014 11:55 WIB
Temui Warga Bugis di Banten, JK: Ini Daerah Potensial yang Perlu Dibantu
Jusuf Kalla di Banten hari ini. (Foto: Hardani Triyoga/Detikcom)
Banten - Selain berziarah ke makam Syekh Sultan Maulana Hasanuddin, Calon Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menemui masyarakat Bugis di Kampung Baru Bugis Karangantu, Desa Banten, Kecamatan Kasemen Kota, Kota Serang.

JK mengatakan tujuan menemui masyarakat Bugis di Banten karena ingin mengetahui kondisi langsung. Meski mayoritas bekerja sebagai nelayan, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia itu salut dengan kemandirian masyarakat setempat dalam bekerja.

"Ini sebenarnya daerah potensial. Perlu dibantu oleh pemerintah setempat juga," sebut JK di Kampung Baru Bugis Karangantu, Banten, Senin (16/6/2014).

Mantan Wakil Presiden itu menyebutkan di Banten masih banyak daerah yang menjadi kantong kemiskinan. Peran pemerintah pun perlu ditingkatkan untuk memberi kemudahan akses.

"Ini kan bukan di daerah Jawa lain saja. Tapi, Banten masih banyak," sebutnya.

Dalam kunjungannya yang hanya sekitar 25 menit, JK menyempatkan bertemu dan ngobrol dengan sejumlah tokoh masyarakat Kampung Bugis setempat. Dalam obrolan tersebut, JK terlihat akrab dengan warga sehingga menggunakan bahasa Makasar.

JK juga menyempatkan melihat dermaga kapal perahu milik masyarakat. Begitu sampai dermaga nelayan, ratusan masyarakat setempat dari anak kecil sampai orang tua mengelu-elukan JK. Mereka berebut salam dan mengambil gambar JK.

"Kami di sini butuh perhatian Pak. Kalau bapak terpilih nanti sebagai wapres, perhatikan di sini. Ada 90 persen lebih masyarakat Bugis di kampung ini," ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat, H. Aliman.

Aliman mengatakan mayoritas masyarakat setempat adalah asli Bugis yang sudah menetap sejak 1970. Menurutnya ada sekitar 5000 Kelapa Keluarga keturunan Bugis yang berada di Kampung Baru Bugis Karangantu.

"Banyak dari tahun 1970-1974 mereka menetap di sini. Termasuk saya," katanya.

(hat/brn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads