"Kita melihat selisih kedua capres hanya 6,3 persen. Jadi semakin kecil selisih. Poin yang ingin kita sampaikan, sebelum pemilu legislatif, Jokowi selalu unggul dari Prabowo. Selalu di atas 2 digit. Sekarang hanya 1 digit," kata Peneliti LSI, Adjie Alfaraby, dalam Konferensi Pers Hasil Temuan Analisis Survei Nasional oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network di Gedung Graha Dua Rajawali, Jalan Pemuda No.70, Rawamangun, Jaktim, Minggu (15/6/2014).
Lalu kenapa selisih Prabowo-Jokowi semakin merapat?
"Karena dukungan Jokowi makin menurun, di sisi lain, lompatan elektabilitas Prabowo makin besar. Mengapa ini terjadi, yang pertama soal Jokowi. Ada dua faktor yang berpengaruh. Pertama faktor Jokowi sendiri, kedua Prabowo," kata Adjie.
Adjie lantas memaparkan argumennya. Pertama, dia melihat Jokowi mengalami puncak elektabilitas sebelum pemilu legislatif. Namun pasca pemilu legislatif 2014, LSI melihat bahwa negatif campaign atau bahkan black campaign itu sangat kuat ditujukan kepada Jokowi.
"Akibatnya, sangat berpengaruh pada persepsi publik terhadap Jokowi sehingga berpengaruh terhadap elektabilitas pasangan Jokowi. Dari sisi figur, belum ada hal baru atau yang fresh dilakukan Jokowi, selain imej blusukan yang selama ini melekat kuat pada Jokowi. Tidak ada yang baru yang bisa ditampilkan Jokowi-JK pasca pileg 2014. Hal ini yang membuat lompatan elektabilitas Jokowi tidak sekuat lompatan elektabilitas pasangan Prabowo," ujarnya menganalisis.
Di sisi lain, menurut Adjie, Prabowob semakin kuat karena diimejkan dengan strong leadership-nya. Citra strong leadership memang menjadi harapan pemilih karena kekecewaan terhadap leadership SBY yang dinilai lemah dan kurang tegas. "Dari sisi personality Prabowo dikenal sebagai capres yang lebih tegas, kharismatik dan lebih berwibawa," katanya.
Menurut Adjie, aspek ini kemudian cukup kuat dan makin kuat ditonjolkan Prabowo sehingga memikat pemilih yang menginginkan pemimpin yang kuat, tegas dalam manajemen pemerintahan.
"Kedua, kita melihat adanya fleksibilitas maupun kemampuan komunikasi elite yang lebih baik dari pasangan Prabowo dibanding Jokowi-JK. Prabowo mampu merangkul berbagai macam elite politik yang mengalami kebuntuan komunikasi dengan Jokowi pasca pileg 2014. Kita lihat misalnya Golkar dan Demokrat yang pasca pileg berusaha untuk membangun komunikasi dengan Jokowi namun mengalami kebuntuan," ungkapnya.
Kebuntuan itu kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Prabowo. Di luar itu fleksibilitas komunikasi dan kemampuan Prabowo dalam membangun komunikasi dengan elite partai memang sedikit banyak membantu Prabowo untuk menguatkan mesin politiknya, yang ujungnya meningkatkan elektabilitasnya.
"Mesin politik Prabowo dan strategi kampanyenya terasa lebih berjalan strategis dan punya efek yang besar terhadap elektabilitas Prabowo. Dua hal ini yang membuat kenapa selisih kedua capres semakin kecil, kemudian lompatan elektabilitas Jokowi tidak sebesar Prabowo," pungkasnya.
(van/nrl)











































