"Harusnya bisa menjaga komitmen, kalau gratis ya gratis. Karena janji awalnya gratis bukan soal bayar Rp 5 ribu saja. Dulu kan katanya untuk memberi ruang untuk warga Jakarta yang hiburannya gratis," kata Sanusi saat dihubungi, Sabtu (14/6/2014).
Ia menyatakan seharusnya panitia PRJ Monas bisa mempertahankan ruh awal saat PRJ Monas dicetuskan. "Atau mungkin karena Gubernurnya sudah nyapres akhirnya bebannya ke Plt (Ahok) yang ternyata sulit juga dibereskan di sana," sambungnya.
PRJ Monas ini memang baru pertama kali diadakan di saat Jokowi-Ahok memimpin Jakarta. PRJ Monas ini sempat menjadi polemik karena dilaksanakan bersamaan dengan Jakarta Fair yang selama ini menjadi ajang hiburan satu-satunya warga Jakarta jelang ulang tahun ibukota Indonesia ini pada 22 Juni.
Saat pelaksanaan perdana PRJ Monas ini pada Juni tahun 2013 ribuan warga membludak di kawasan Monas yang menjadi tempat dilaksanakannya acara ini. Pengunjung dan penjual sama-sama diberi ruang dan tak dipungut biaya.
Konsep PRJ Monas pun dibuat tak semegah Jakarta Fair di Kemayoran. Untuk PRJ Monas, pemprov memprioritaskan UKM binaan Dinas UMKM DKI dan PKL. Hiburannya pun lebih sederhana dan dibuat kental dengan budaya Betawi.
Kini, di tengah pelaksaan PRJ Monas 2014, Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama menyatakan ada opsi memungut tarif masuk sebesar Rp 5 ribu. Meski masih pada taraf rencana, pihak Unit Pelaksana (UP) Monas menyetujui rencana tersebut untuk memfilter pengunjung yang masuk di kawasan Monas.
(bil/fdn)











































