Ini Track Record Survei LSN yang Klaim Prabowo Salip Jokowi

Ini Track Record Survei LSN yang Klaim Prabowo Salip Jokowi

- detikNews
Jumat, 13 Jun 2014 14:35 WIB
Ini Track Record Survei LSN yang Klaim Prabowo Salip Jokowi
Jakarta - Kubu Jokowi-JK tidak mempercayai hasil survei yang diselenggarakan oleh Lembaga Survei Nasional (LSN) yang menempatkan Prabowo Subianto di atas Jokowi. Seperti apa track record LSN yang menempatkan Prabowo sebagai capres terkuat saat ini?

"Tentu tidak percaya, karena survei LSN ini terlalu jauh berbeda dengan hasil survei-survei lain yang selama ini di-publish. Ini sangat aneh, kami menduga bahwa hasil survei ini sengaja di-launching dalam rangka mempengaruhi persepsi publik agar beralih ke Prabowo," kata Jubir Tim Sukses Jokowi-JK, Abdul Kadir Karding, kepada detikcom, Jumat (13/6/2014).

Hasil riset LSN yang dirilis di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (12/6) kemarin menempatkan Prabowo-Hatta sebagai sebagai pasangan capres-cawapres terkuat saat ini dengan elektabilitas 46,3%. Elektabilitasnya jauh di atas Jokowi-JK yang hanya meraih 38,8%. Sementara itu responden yang belum menentukan pilihan 14,9%.

Survei dilakukan antara tanggal 1-8 Juni 2014 di 33 provinsi dengan jumlah responden 1.070 orang dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 50:50. Survei dilakukan melalui pengumpulan data teknik melalui wawancara dengan pedoman kuisioner. Margin of error survei -/+ 3% dengan tingkat kepercayaan 95%.

LSN mencatat ada 3 faktor yang membuat elektabilitas Jokowi menurun, yakni karena publik sudah mulai jenuh dengan figur Jokowi, mesin partai-partai pendukung Jokowi-JK yang tidak bekerja dengan optimal, danpublik mulai meragukan kapabilitas Jokowi terkait dengan penampilannya yang kurang mengesankan pada acara pengundian nomor urut KPU dan acara deklarasi damai di Hotel Bidakara beberapa waktu lalu.

Tentu saja itu adalah analisis versi LSN. Berikut adalah gambaran track record LSN yang secara garis besar hasilnya tak pernah mengunggulkan Jokowi:

1. Publikasi survei Juli 2013, Jokowi tak dihitung

LSN menggelar survei mengenai elektabilitas calon presiden dari stuktur partai. Hasilnya Prabowo Subianto unggul di urutan capres pertama di atas Aburizal Bakrie, Wiranto dan capres lainnya.

"Prabowo Subianto merupakan capres struktural dengan elektabilitas tertinggi (27%) disusul ARB (16,3%) dan Wiranto (13,2%)," kata peneliti LSN Dipa Pradipta dalam pemaparan hasil survei di Hotel Grand Menteng, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Selasa (16/7/2013).

Survei itu dilakukan pada tanggal 1-10 Mei 2013 di 33 provinsi. Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia minimal telah berusia 17 tahun. Tak seperti survei-survei capres lain, nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tak dimasukkan di survei, alasannya karena Jokowi tak masuk struktur partai.

Jumlah sampel 1.230 responden, diperoleh melalui teknik pengambilan sampel secara acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error 2,8 persen dan tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95 persen. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik wawancara tatap muka dengan bantuan kuesioner. Responden terdistribusi 50 persen laki-laku dan 50 persen perempuan.

2. Publikasi survei Februari 2014, Warga DKI Tolak Jokowi Nyapres

Gubernur DKI Jakarta Jokowi memuncaki hampir semua survei capres saat ini. Namun, hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) mengatakan bahwa mayoritas warga DKI kurang setuju dengan pencapresan Jokowi di Pemilu 2014.

"Mayoritas publik DKI atau 71,2 persen mengaku kurang setuju jika Jokowi maju sebagai capres pada Pemilu 2014. Dan hanya 27,5 persen saja yang menyatakan setuju Jokowi diusung sebagai capres 2014," ulas peneliti senior LSN Gema Nusantara saat jumpa pers di Century Park Hotel, Jalan Pintu Satu Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (9/2/2014).

Mengapa hal itu bisa terjadi? Gema menjelaskan, dari survei yang dilakukan LSN menunjukkan bahwa sebanyak 32,5 persen publik Jakarta menghendaki Jokowi membuktikan kinerjanya terlebih dahulu sebagai Gubernur DKI hingga masa jabatannya berakhir di 2017.

"18,7 persen (publik DKI) mengaku tidak setuju Jokowi nyapres di tahun 2014 karena beliau masih dibutuhkan untuk membenahi Jakarta," imbuhnya.

Sedangkan sebanyak 12,4 persen menilai Jokowi belum memiliki pengalaman kepemimpinan dalam skala nasional. Sebanyak 10,8 persen menganggap masih ada tokoh nasional lain yang lebih layak menjadi Presiden RI 2014-2019.

Survei ini dilaksanakan pada 10-24 Januari 2014 di 5 kota madya dan 1 kabupaten di DKI. Populasi dari survei ini adalah mereka yang berusia minimal 17 tahun dan yang belum 17 tahun tapi sudah menikah. Jumlah responden keseluruhan adalah 790 orang yang diperoleh melalui teknik pengambilan sampel secara berjenjang (multistage random sampling). Margin of error. Sebesar 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dengan responden dengan berpedoman quesioner.

3. Publiksi survei Februari 2014, masyarakat tak puas kinerja Jokowi


Hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) menunjukkan kepuasan masyarakat DKI terhadap kinerja Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) merosot. Terutama untuk kinerja Jokowi dalam mengatasi masalah banjir dan kemacetan.

"Untuk masalah banjir, hanya 24,8 persen publik mengaku puas. Tingkat kepuasan publik merosot bila dibandingkan pada survei LSN pada Oktober 2013 yang hasilnya 52,7 persen mengaku puas," ujar peneliti senior LSN Gema Nusantara di Century Park Hotel, Jalan Pintu Satu Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (9/2/2014).

Selanjutnya terkait dengan masalah kemacetan lalu lintas, tingkat kepuasan publik juga merosot. Pada Oktober 2013 lalu, tingkat kepuasan publik masih 52,7 persen publik yang merasa puas terhadap kinerja Jokowi dalam menangani kemacetan lalu lintas.

"Kini tinggal 34,6 persen saja yang mengaku puas," imbuhnya.

Survei ini dilaksanakan pada 10-24 Januari 2014 di 5 kota madya dan 1 kabupaten di DKI. Populasi dari survei ini adalah mereka yang berusia minimal 17 tahun dan yang belum 17 tahun tapi sudah menikah. Jumlah responden keseluruhan adalah 790 orang yang diperoleh melalui teknik pengambilan sampel secara berjenjang (multistage random sampling). Margin of error. Sebesar 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dengan responden dengan berpedoman questioner.

4. Publikasi survei 5 Mei 2014, Prabowo lebih dicintai Nahdliyin

Calon presiden yang diusung PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) gencar menyambangi tokoh-tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU) untuk mendulang dukungan dari puluhan juta warga warga NU. Namun menurut survei LSN ternyata Prabowo menjadi pilihan utama nahdliyin.

Menurut survei yang digelar 14 hingga 24 April 2014, bakal capres Partai Gerindra Prabowo Subianto justru menjadi pilihan utama kaum nahdliyin. "Jokowi yang pencapresannya juga didukung PKB malah tertinggal dari Prabowo dalam merebut hati pemilih di kalangan NU," kata Direktur Eksekutif LSN Umar S. Bakry dalam rilisnya, Senin (5/5/2014).

Populasi dari survei LSN adalah seluruh penduduk Indonesia yang telah memiliki hak pilih dan sudah tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Jumlah sampel sebesar 1.230 responden yang diperoleh menggunakan teknik ambang berjenjang. Batas kesalahan survei ini adalah 2,8 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Ketika LSN menanyakan kepada responden, apakah merasa dekat atau kurang dekat dengan sejumlah ormas keagamaan, sebanyak 55,9 persen menyatakan merasa dekat dengan NU. Kemudian sebanyak 17,2 persen responden menyatakan merasa dekat dengan Muhammadiyah.

Selanjutnya ketika LSN menanyakan kepada 55,9 persen responden yang merasa dekat dengan NU, siapakah yang akan dipilih seandainya Pilpres dilaksanakan saat ini (saat survei dilakukan), sebanyak 32,5 persen mengaku akan memilih Prabowo.

Sedangkan bakal capres PDI Perjuangan Jokowi hanya dipilih oleh 22,1 persen responden dan bakal capres Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) dipilih oleh 15,5 persen responden. "Sementara sebanyak 29,9 persen responden menyatakan 'tidak tahu' atau belum punya pilihan," ujar Umar.

Dalam survei LSN ini hanya disodorkan tiga nama bakal capres, yaitu Joko Widodo (PDI Perjuangan), Aburizal Bakrie (Partai Golkar), dan Prabowo Subianto (Partai Gerindra). Pemilihan tiga nama ini didasarkan pertimbangan bahwa ketiga partai yang mengusung mereka kebetulan menjadi tiga besar partai dalam Pileg 9 April 2014 lalu.







(van/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads