Bila Kasus MH370 adalah Terorisme, Siapa Dalangnya?

- detikNews
Jumat, 13 Jun 2014 09:57 WIB
Jakarta - Tanda-tanda keberadaan pesawat Malaysia Airlines MH370 masih belum terdeteksi. Tak adanya tanda keberadaan fisik membuat teori konspirasi berseliweran, termasuk kemungkinan terorisme. Bila benar hilangnya MH370 aksi teror, siapa dalangnya?

Pengamat intelijen Marsda TNI (Purn) Prayitno Ramelan menganalisis segala kemungkinan terkait hilangnya MH370 dalam buku 'Hilangnya MH370' terbitan Ufuk Press.

"Dari fakta-fakta yang ada, besar kemungkinan penerbangan MAS MH370 telah dibajak dan diledakkan di udara dalam sebuah aksi terorisme," tulis Prayitno.

Fakta-fakta yang dimaksud Prayitno adalah yang sudah jamak tersebar di media antara lain seperti dua penumpang yang memakai paspor curian milik Luigi Maraldi dan Christian Kozel, serta dua penumpang ilegal lain dengan paspor palsu yang mengambil data dari China. Kemudian, tidak adanya pancaran sinyal Emergency Locator Beacon (ELT) yang seharusnya memancar saat crash atau tenggelam di perairan, juga tak adanya panggilan 'Mayday' dari pesawat bila pesawat mengalami kondisi darurat serta banyak fakta ganjil lain.

"Maka kemungkinan besar yang bermain dan berkomplot di pesawat tersebut adalag jaringan internasional," tulis Prayitno dalam buku setebal 252 halaman yang diterbitkan Phoenix Publishing Project.

Para pelakunya, imbuh Prayitno, bisa Nonstate-supported group (kelompok kecil antikorupsi, misalnya), State-sponsored groups (kelompok dengan dukungan negara asing, pelatihan di negara ketiga), dan State-directed groups (negara yang mengorganisir dukungan terhadap kelompok teroris secara langsung).

"Teror dengan model pembajakan dan peledakan pesawat merupakan sebuah berita atau pesan yang gaungnya sangat kuat. Menimbulkan ketakutan yang sangat," tulis Prayitno.

Sasaran dari MH370 bila benar dibajak, bisa jadi orang atau kelompok di dalam pesawat, perwakilannya yang ada di pesawat, perusahaan penerbangan Malaysia Airlines atau negara Malaysia. Juga bisa jadi, pesawat MH370 adalah sasaran antara, sedangkan targetnya negara lain.

Malaysia, yang menurut para spesialis dan kontra teror juga merupakan tempat transit dan pernah menjadi lokasi beberapa perencanaan serangan 11 September 2001 di AS juga menjadi fakta yang perlu dipertimbangkan.

Bila benar dibajak, otak pembajakan ini patut diacungi jempol karena bisa membuat chaotic condition dalam beberapa tahapan dengan daya ledak akhir amat dahsyat. Tahap pertama: perlu puluhan hari mendeteksi pesawat, melibatkan puluhan negara besar dan kecil, menggunakan teknologi mutakhir, menghabiskan jutaan dollar, dan menciptakan kisruh di antara keluarga penumpang.

Tahap kedua yang bila kotak hitam ditemukan: Malaysian Airlines bisa bangkrut, kedatangan turis Malaysia akan sangat menurun dan citra pemerintah Malaysia bisa hancur.

Dari sisi antiteror, hal ini bisa dikerucutkan ke pihak yang tidak senang dengan Malaysia: bisa oposisi, bisa tangan asing, atau jaringan teror global.

"Kejahatan tidak selalu sempurna, pasti ada jejak yang ditinggalkan. Dari pembahasan tersebut, penulis lebih mengarah bahwa serangan ini terkait dengan jaringan Al Qaeda kepada Amerika Serikat dan sekutunya karena faktor pendukungnya beruipa fakta lebih kuat dibanding kemungkinan latar belakang politik," tulis Prayitno.



(nwk/ndr)