"Saya adalah produk dari Bhinneka Tunggal Ika itu. Bapak saya dari Jateng Banyumas, ibu saya dari Minahasa Sulawesi Utara, jadi saya ini produk dari Bhinneka Tunggal Ika. Kalau saya di Jawa saya ngaku orang Jawa, kalau saya di Sulawesi saya ngaku orang Sulawesi. Kalau saya di Indonesia timur, saya ngaku orang Indonesia timur. Ya namanya politik kita harus cari suara saudara-saudara, kan boleh. nggak salah itu," kata Prabowo di acara bertajuk Temu Muka dan Silaturahmi Pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Hatta di Hotel Pullman, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2014).
Prabowo kemudian berpidato mengenai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi motto bangsa dan mencerminkan falsafah Pancasila sebagai dasar negara. Kemudian, Prabowo juga mengatakan meski kedua orangtuanya berasal dari latar belakang suku yang berbeda tetapi bisa hidup rukun.
"Ada yang menyatakan Pancasila itu adalah salah satu pilar. Kok aneh pilar? Pancasila itu landasan, pondasi, tanpa Pancasila tidak bisa ada NKRI. Jadi sifat kebhinnekkan ini bagi bangsa Indonesia adalah kenyataan sehingga kita menganut faham kebangsaan. Berbeda-beda suku, agama, kelompok, etnis, ras, bahasa adat, tidak menjadi dasar untuk berpisah tetapi menjadi kekayaan kita bersama," kata Prabowo.
"Yang saya alami, bapak saya berasal dari suku yang satu, ibu saya dari kelompok yang lain tapi mereka rukun dan berhasil membesarkan saya. Jadi saya besar di keluarga yang benar-benar Pancasila. Saya besar di lingkungan yang mewajibkan kita hidup damai dengan orang-orang yang berbeda. Saya dari kecil sekolah di negara yang berbeda-beda," sambung eks Danjen Kopassus itu.
Kemudian Prabowo menceritakan jika dia pernah hidup di berbagai negara seperti Singapura, Hongkong, Malaysia, Swiss dan Inggris. Lalu, dia kembali ke Indonesia dan masuk ke akademi militer dan juga bertemu dengan beragam suku dan agama yang menunjukkan kebhinnekaan bangsa.
(dha/mpr)










































