"Parpol gagal memberikan pendididikan politik, survei-survei tidak mendidik," kata Presiden Direktur Center for Election and Political Party (CEPP) Fisipol Universitas Indonesia, Chusnul Mar'iyah, kepada wartawan di Gedung Auditorium Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Jl Ir H Juanda, Kamis (12/6/2014).
Keberadaan Chusnul usai tampil sebagai pembicara dalam kegiatan 'Rock The Vote Indonesia Jelajah Nusantara' hasil kolaborasi kerjasama CEPP UI, Kemendagri dan Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Kampus Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda adalah kampus ke-35 dari rencana 45 kampus se-Indonesia.
Diterangkan Chusnul, road show ke berbagai kampus ini dimulai dari Universitas Syah Kuala Banda Aceh dan akan berakhir di Universitas Cendrawasih di Jayapura.
"Kami melakukan pendidikan politik dengan fun tapi tidak funny, tidak ada lelucon. Pembelajaran pentingnya pendidikan politik bagi pemilih pemula dan pemilih muda range usia 17-23 tahun," ujar Chusnul.
"Untuk itu kami gandeng Kesbangpol Kemendagri, bagaimana kita memperkuat kedaulatan Indonesia diantaranya mendidik berdaulat dalam berpolitik. CEPP itu siapa saja, riil konstituennya adalah mahasiswa," tambahnya.
Sementara Kasubdit Implementasi Kebijakan Politik dari Ditjen Kesbangpol Kemendagri, Sri Handoko Taruna juga menerangkan, pada Pilpres mendatang diantaranya termasuk sekitar 53 juta pemilih pemula dan pemilih muda.
"Kalau tidak digarap dengan baik akan berdampak tidak baik bagi demokrasi kita. Mereka diharapkan bisa menjadi agen demokrasi hingga di tingkat keluarga," kata Handoko.
"Angka 53 juta itu merupakan anak muda, pemilih muda dominan memahami jejaring sosial melalui gadget mereka. Di akhir kegiatan ini juga kami kampanyekan No Money Politics dan seruan Mari Sukseskan Pilpres 9 Juli 2014 melalui jejaring sosial,"
Direktur CEPP Fisip Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Elvyani NH Gafar menyebut 500 orang pelajar dan mahasiswa di Samarinda, menjadi peserta dalam kegiatan kali ini.
"Mereka mahasiwa dan pelajar SMAN1, SMKN2 Samarinda, SMKN Muhammadiyah. Banyak yang telah ikut Pileg kemarin dan ada juga baru akan ikut nyoblos di Pilpres,"
Selain diberikan pendidikan dini tentang politik, peserta juga terlibat dalam simulasi proses pemungutan suara hingga berada di bilik suara. Diharapkan, mereka bisa memahami lebih jauh tentang demokrasi hidup berbangsa dan bernegara.
(mad/ndr)











































