LSI: 100 Hari Memerintah, Popularitas SBY Merosot

LSI: 100 Hari Memerintah, Popularitas SBY Merosot

- detikNews
Rabu, 22 Des 2004 15:26 WIB
Jakarta - Hasil survei Lembaga Survey Indonesia (LSI) menunjukkan popularitas SBY menurun karena dalam 100 hari pertama pemerintahannya tidak membawa perubahan yang konkret.Hasil survei LSI disampaikan Direktur Eksekutif LSI Denny JA di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu (22/12/2004). Menurut Denny, dalam analisa temuan survei LSI matahari kembar dalam kabinet SBY-JK juga akan menjadi persoalan yang menyatakan SBY lebih menonjol perannya dibanding Kalla kurang dari 50 persen. Sedangkan, sebanyak 37 persen menyatakan peran keduanya sama-sama menonjol. Padahal survey ini dilakukan sebelum Wapres Jusuf Kalla terpilih jadi ketua umum Partai Golkar.Di sisi lain, antusiasme publik atas SBY masih tinggi di banding kekuatan politik lain. Publik masih menilai tinggi kualifikasi kepemimpinan SBY dibandingkan pandawa lima seperti Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Akbar Tandjung. Ternyata SBY masih paling berpengaruh di mata publik. Begitu juga jika terjadi konflik antara SBY dengan DPR, SBY juga yang lebih diikuti publik.Survei dilakukan dari 7 hingga 8 Desember 2004 dengan menggunakan metodologi standar multistaged random sampling dengan 1.200 responden di 150 desa dan kota.Melalui survei ini, terekam berbagai potret mengenai pemerintahan SBY. Satu sisi ada potret buram yang menunjukkan kelemahan pemerintahan baru dan gambaran cerah di pemerintahan SBY.Begitu juga di awal 2005, pemerintahan SBY akan menghadapi isu panas yaitu kenaikan BBM. Sementara di pihak oposisi juga mengalami pertukaran pemain dengan keluarnya Akbar yang dikenal dengan istilah GAM (Gus Dur, Akbar dan Mega) pertama dan masuknya Amien Rais menggantikan Ajbar di GAM kedua.Publik juga terus menanti prestasi yang paling menentukan dari SBY, yaitu masalah ekonomi. Naik turunnya polularitas SBY sangat tergantung bagaimana SBY mengolah masalah itu.Dalam potret buram pemerintah SBY di era bulan madu atau era 100 hari pertama mulai November sampai Desember menunjukkan tingkat kepuasan publik atas SBY berkurang sebanyak 13 persen. Begitu juga mengeni kepuasan terhadap pemberantasan korupsi masih pada angka 60 persen.Penurunan popularitas SBY dikarenakan 4 hal, pertama karena publiksebelumnya sangat yakin dengan presiden baru yang justru terbuka peluang menuai kekecewaan. Kedua, publik yang tidak sabar dengan adanya perubahan di mana presiden SBY dalam kinerjanya tidak membawa perubahan yang konkret.Ketiga, publik juga memiliki kecurigaan yang tinggi atas kemampuan menteri kabinet Indonesia Bersatu untuk tidak terjebak praktik KKN. Keempat, kurangnya seni public relation mengenai isu populer seperti kecelakaan pesawat Lion Air, bencana gempa bumi di Nabire dan Alor, kasus meninggalnya Munir dan kecelakaan di tol Jagorawi beberapa waktu lalu. (aan/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads