Berdasarkan laporan IUCN (International Union for Conservation of Nature), populasi gajah Sumatera menurun drastis akibat penyusutan habitat, perburuan dan kematian yang terus terjadi.
"Gajah Sumatera telah kehilangan sekitar 70 persen habitatnya. Pelan-pelan akan terancam punah," ungkap Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr drh Joko Prastowo dalam acara workshop Problem Medis dan Reproduksi Gajah di Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (9/6/2014).
Joko mengatakan estimasi populasi gajah Sumatera di alam berkisar 2400-an ekor. Saat ini diperkirakan telah menurun drastis dari angka tersebut akibat berkurangnya habitat. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu tindakan konkret diantaranya pengelolaan breeding atau pengembangbiakan yang baik.
"Perlu pelatihan kepada pawang gajah dan para dokter hewan di lapangan sebagai upaya untuk mengatasi ancaman tersebut," katanya.
Menurut Joko, salah satu yang dilakukan adalah FKH UGM bekerja sama dengan Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC) untuk mengikuti Workshop Problem Medis Dan Reproduksi Gajah. Ada ratusan para dokter hewan dan mahout (pawang gajah) dari Taman Margasatwa Ragunan-Jakarta, Balisafari and Marine Park-Bali, Kebun Binatang Bukit Tinggi, Gembira Loka Zoo, PT. Taman Wisata Candi Borobudur Magelang, Taman Satwa Taman Jurug-Solo, Frankfurt Zoological Society (FZS), dan Maharani Zoo/Jatim Park yang mengikuti workshop selama tiga hari itu.
Mereka dilatih agar bisa mengelola dengan baik dan mengembangbiakan agar tidak punah," pungkas Joko.
(bgs/mad)











































