Acara ini merupakan kerja sama antara FORKABI, yang didukung Sudin Kebudayaan Jakarta Selatan. "Kami akan memberikan hiburan masyarakat gratis," terang Riduan. "Kalau di panggung memang lebih dominan menggelar budaya tradisional, terutama Betawi. Namun, ada juga budaya nasional lainnya seperti Reog, tarian Aceh, juga Padang," terangnya. Selain itu, ada pula lomba-lomba yang diadakan demi meramaikan acara ini.
"Untuk lomba palang pintu ada 11 peserta. Selain itu, ada lomba fun bike, tari, dan kreasi," tambahnya. Ia juga menuturkan, akan diadakan malam nostalgia dengan menghadirkan lagu-lagu Koes Plus.
Stan yang berpartisipasi dalam festival ini terdiri dari 280 stan. Adapun, 30% merupakan stan di bidang kuliner sedangkan sisanya merupakan stan yang menjual barang seperti aneka aksesoris, baju, mainan, sepatu, dan lainnya.
"Yang diharapkan per hari ada 35 ribu pengunjung. Dua hari kami harapkan bisa sampai 70 ribu orang. Acara ini dilaksanakan sampai pukul 22.00 WIB," terang Riduan.
Beberapa penjual memang memilih membuka stand di Festival Palang Pintu demi meraup keuntungan yang besar. Padahal, biaya sewa stand selama dua hari tidaklah kecil. "Selama dua hari itu Rp 2.250.000. Ya saya lihat pasarannya memang bagus, banyak pengunjung," terang Puput (25), salah satu penjual pakaian yang membuka stand di festival ini.
Lain lagi dengan pedagang kecil. Penjual kerak telor, Popon (56), membayar biaya sewa sebesar Rp 175.000 selama dua hari. Ia menjual kerak telor ayam seharga Rp 13.000 sedangkan kerak telor bebek seharga Rp 15.000. "Semoga saja laku," harapnya. Selain kerak telor, terlihat juga makanan tradisional lain yang dijual di acara ini, meliputi kue rangi Betawi, kupat tahu Betawi, dodol, dan lainnya.
(trq/trq)











































