Hal tersebut diungkapkan B, ibu korban, di konferensi pers yang diselenggarakan Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA), Jakarta Timur, pada Jumat (6/6/2014).
Diceritakan oleh sang bunda, korban cukup stres setelah melakukan pemeriksaan demi pemeriksaan karena harus mengulangi cerita yang sama. "Setiap malam mengigau dan menangis histeris. Kalau sebut kata sekolah pasti langsung nggak mau. Ia bilang mau bawa pistol-pistolan ke sekolah untuk bunuh Miss H," terang B. B juga menjelaskan bahwa L langsung memiringkan badannya ketika lewat sekolah tempat dia dulu belajar.
B menjelaskan peristiwa kejadian kejahatan seksual yang sudah diceritakan sebelumnya oleh anaknya. "Guru ini melakukan saat sedang berdua dengan anak saya di ruangan menari. Anak saya disuruh meraba-raba Miss," ungkap B. Dikatakan pula bahwa dubur L kerap kali ditusuk dengan jari oleh Miss S. Ketika ditanya berapa kali hal itu dilakukan, L yang belum bisa berhitung menjawab "banyak".
"Anak saya baru 3.5 tahun. Baru saja belajar bicara. Anak saya betul-betul menceritakannya dengan jelas dan tidak berubah-ubah," tambah B.
Hal serupa diungkapkan oleh Ketua KNPA Arist Merdeka Sirait. "Saya sudah bertemu korban. Korban konsisten. Dia sering meraba-raba payudara dari ibu dan omanya. Tidak mungkin dia mencotohkan kalau tidak melihat karena masih 3.5 tahun," jelasnya.
Demi mengobati trauma L, B mengobati anaknya ke psikiater serta psikolog di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. "Psikolog anak juga meyakinkan kalau anak saya imajinasinya sangat minim. Dikasih boneka pun anak saya tidak bisa bercerita. Makanya anak ini betul-betul menyampaikan kebenaran dan bukan imajinasi," terang B.
(fjp/fjp)











































