Polisi Dinilai Tak Mampu Menangani Terorisme
Selasa, 21 Des 2004 22:25 WIB
Jakarta - Kepolisian Indonesia dianggap tidak akan mampu menangani aksi-aksi terorisme, apalagi mencegahnya dan tidak akan pernah selesai bila. Sebab, menurut pengamat intelijen AC Manullang, teror itu harus ditangani oleh pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI)."Saya sudah katakan kepada Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar harus berani mengatakan siapa itu sebenarnya teroris? yang membuat bom dan ribut-ribut itu. Kalau hanya terpaku untuk menangkapi orang, hanya menambah-nambah orang dan masalah saja," jelas pengamat intelijen AC Manullang kepada wartawan usai upacara Hari Juang Kartika di Mabes AD, Jakarta, Selasa (21/12/2004).Terorisme, jelas Manullang, merupakan salah satu bentuk perang modern, seperti apa yang sering dikumandangkan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu. Masyarakat Indonesia, katanya, jangan lagi beranggapan perang itu menggunakan tank atau perang konvesional seperti dahulu. "Perang modern itu bukan ekonomi, sosial dan budaya. Tapi intinya satu, komunikasi. Siapa yang menguasai informasi seperti saat ini, dia yang mengendalikan semuanya. Yang mengendalikan itu siapa? Ya, intelijen asing yang berjumlah puluhan ribu masuk ke Indonesia," jelas Manullang.Dia menyebutkan, sekitar 60.000 intelijen asing masuk ke Indonesia sejak era reformasi dimulai. Agen-agen intelijen asing ini masuk keberbagai wilayah di Indonesia seperti Ambon, Papua, Poso dan Aceh. Tujuan mereka adalah untuk mengendalikan Indonesia agar mau menerapkan konsep negara asing dalam bidang globalisasi yang lebih neo kapitalisme dan neo kolonialisme. Cara-cara mengendalikan Indonesia dengan memaksakan atau mengidentikan teroris itu dengan kelompok Islam, yang memang gampang disusupi dan digoyang.Ketika ditanya apakah begitu susah mendeteksi aksi terorisme di Indonesia? Manullang menjawab, hal itu tidak begitu sulit. "Tidak susah, Kepala BIN Syamsir Siregar harus membuat tindakan. Selama ini BIN digunakan untuk kepentingan politik, berani tidak untuk mengungkap teror di Indonesia. Dulu kalau adayang mau bunuh Soeharto pasti sudah ketahuan dulu," jelasnya.Selama ini, sebenarnya untuk penanggulangan terorisme memang sudah ada dan itu berada di TNI, khususnya Angkatan Darat. "Berani tidak Ryamizard Ryacudu mengatakan kepafa SBY, siapa pelaku teror itu, Anton. Anton itu Amerika Serikat, ya hantam, proklamasikan dong. Bukan polisi yang mengatakan persoalan teror. Polisi hanya mencari fakta setelah kejadian, tapi itu TNI yang bisa lakukan pencegahan," katanya. Di sejumlah negara Eropa Timur, terang Manullang, pasukan-pasukan anti teror dibentuk bukan oleh polisi, melainkan tentaranya. Karena teror itu musuh negara yang berkaitan dengan masalah teritorial sebuah negara yang harus dijaga, yaitu militer (TNI, red). Jadi polisi tidak akan mampu? tanya wartawan. "Polisi menurut saya tidak akan mampu menangani teror dan tidak akan selesai. Detasemen 88 Anti Teror Mabes Polri hanya meniru-niru dan mubajir," jawab Manullang.
(mar/)











































